Harga Cengkih Tembus Rp120.000/Kg, Petani Sumringah

Ilustrasi cengkih. (pixabay)

Editor: Dera - Jumat, 22 Juli 2022 | 18:50 WIB

Sariagri - Petani dan pedagang pengumpul hasil perkebunan di Kota Ambon kini merasa senang karena harga cengkih mencapai Rp120.000 per kilogram (kg), naik cukup tinggi dari sebelumnya Rp108.000 per Kg.

"Saya mengucap syukur sebab keperluan di rumah sekarang ini cukup banyak apalagi membiayai anak-anak yang masuk tahun ajaran baru, dan ada yang pindah sekolah ke jenjang yang lebih tinggi," kata Reni, petani asal Pulau Seram di Ambon, Jumat (22/7).

Reni mengaku baru saja menjual 10 Kg cengkih ke toko pengumpul rempah di Kota Ambon. Ia berharap harga cengkih yang tinggi tersebut bisa terus bertahan, bahkan kalau bisa meningkat lagi.

Pengusaha pengumpul rempah di Ambon, Evi, mengatakan harga berbagai jenis hasil perkebunan asal Maluku mulai bergerak naik sejak minggu lalu. Harga paling tinggi adalah komoditi cengkih yang mencapai Rp120.000 per Kg.

"Kalau harga cengkih sangat menguntungkan sebab sudah satu minggu bergerak naik hingga kini masih terus bertahan sebesar Rp120.000 per kg," ujarnya.

Pantauan di sejumlah gudang pengumpul hasil perkebunan di Jalan Setia Budi, Ambon, terlihat pengumpul menawarkan harga komoditi lainnya seperti biji pala bundar kini mencapai Rp95.000/Kg, fuli atau pembungkus biji pala Rp245.000/Kg, dan cokelat Rp28.000/Kg. Harga tersebut relatif stabil.

"Kalau biji pala terutama pala bundar yang baik dipatok harga Rp95.000 per kg, sedangkan biji pala yang terlihat keriput harganya berkisar antara Rp90.000 per Kg," katanya.

Ia mengatakan hanya harga kopra yang sedikit bergerak turun dari Rp8.500 menjadi Rp7.500/Kg.

Evi mengatakan selalu memantau perkembangan harga di Surabaya, Jawa Timur, karena hasil pembelian yang dilakukan di Kota Ambon dijual lagi ke Surabaya.

Baca Juga: Harga Cengkih Tembus Rp120.000/Kg, Petani Sumringah
Waspada, Serangan Penyakit Tanaman Mengintai Saat Musim Hujan

"Jadi kami tetap memantau harga di Surabaya sebagai patokan untuk bertransaksi di Ambon," katanya, seperti dilansir Antara. 

Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Maluku Poli Jamlean, mengatakan bahwa patokan harga beberapa komoditi hasil perkebunan Maluku selama ini mengacu pada mekanisme pasar di Surabaya. Artinya, para pembeli yang ada di Kota Ambon ini selalu mengikuti perkembangan harga di pasar utama di Surabaya.

"Sebab hasil yang mereka beli dijual lagi ke Surabaya, dan hal itu sudah menjadi mekanisme pasar," kata Poli.

Video Terkait