Pembatasan Pekerja Indonesia Dicabut, Emiten Perkebunan Malaysia Menguat

Ilustrasi kelapa sawit. (Antara)

Editor: M Kautsar - Senin, 1 Agustus 2022 | 15:45 WIB

Sariagri - Saham emiten perkebunan di Bursa Malaysia kembali menguat. Kondisi ini terjadi setelah Indonesia mencabut pembatasan pekerjanya yang masuk ke Malaysia mulai Senin (1/8/2022) termasuk pekerja dari sektor perkebunan.

Pada pukul 11.27 waktu setempat, indeks bursa perkebunan naik 1,29 persen atau 90,37 poin menjadi 7.088,71, dilaporkan The Edge Market.

Batu Kawan Bhd— top gainer kedua di lantai bursa— naik 20 sen atau 0,86 persen menjadi RM23,40, dengan kapitalisasi pasar RM9,39 miliar.

Kuala Lumpur Kepong Bhd (KLK) naik 30 sen atau 1,37 persen RM22,22 dengan sekitar 27.900 saham diperdagangkan. Pada harga saat ini, emiten tersebut bernilai RM24,02 miliar.

Chin Teck Plantations Bhd tumbuh 27 sen atau 2,96 persen menjadi RM9.40, dengan nilai RM854,25 juta, years-to-date stok telah meningkat 32,39 persen dari RM7,10.

Ini diikuti oleh Genting Plantations Bhd, yang naik 14 sen menjadi RM6.60, memberikan nilai pasar RM5.92 miliar; Ta Ann Holdings Bhd, yang tumbuh 3,65 persen menjadi RM3,98 dengan nilai pasar RM1,77 miliar; dan United Plantations Bhd, yang naik tipis 0,84 persen menjadi RM14,42 dengan nilai pasar RM6 miliar.

Bulan lalu, Reuters melaporkan bahwa Indonesia untuk sementara berhenti mengirim warganya untuk bekerja di Malaysia. Pelanggaran dalam kesepakatan perekrutan pekerja yang ditandatangani antara kedua negara dapat menggagalkan pemulihan ekonomi negara tersebut.

CGS-CIMB Research, dalam sebuah catatan pada 29 Juli, mengatakan perekrutan pekerja perkebunan dari Indonesia sangat penting untuk meningkatkan hasil tandan buah segar, meningkatkan produksi minyak sawit mentah, dan mengurangi biaya produksi perkebunan Malaysia.

Resolusi pembekuan sementara baru-baru ini akan memungkinkan dimulainya kembali penerimaan pekerja  Indonesia dalam beberapa bulan ke depan untuk mengurangi masalah kekurangan pekerja asing saat ini.

“Kabar ini positif untuk sektor perkebunan, manufaktur, konstruksi, dan jasa di Malaysia karena akan membantu meningkatkan produktivitas dan profitabilitas bisnis di masa depan,” kata analis CGS-CIMB Ivy Ng Lee Fang dan Nagulan Ravi.

Video Terkait