Kala Perkebunan Sekolah Selamatkan Anak-anak dari Kelaparan

Ilustrasi anak-anak. (wikimedia.commons)

Editor: Dera - Kamis, 8 September 2022 | 19:30 WIB

Sariagri - Jauh sebelum pembatasan COVID-19 menghancurkan ekonomi, kekurangan gizi dan kemiskinan mengintai para pemuda Kamboja. Negara tersebut menghadapi konflik dan ketidakstabilan selama beberapa dekade, setelah pemerintahan Khmer Merah pada 1970-an.

Keadaan itu diperburuk dengan harga pangan yang terus naik. Namun saat ini, kebun sayur sekolah menjadi sumber ketahanan pangan bagi keluarga yang kesulitan.

Mengutip AFP, kerawanan pangan memburuk sejak invasi Rusia ke Ukraina karena memicu kelangkaan pangan dan inflasi global. Program Pangan Dunia (WFP) mengatakan harga bahan pokok di Kamboja melonjak pada tahun lalu, kenaikan harga telur bebek lebih dari 20 persen dan minyak goreng hampir 40 persen.

Dalam beberapa bulan terakhir, banyak keluarga di Kamboja mengandalkan program perkebunan dan sarapan gratis di sekolah anak-anaknya. Hal tersebut guna meringankan tekanan keuangan.

Angka Kekurangan Gizi Menurun

Sekolah-sekolah terpencil di Provinsi Siem Reap, Kamboja, menggunakan kebun halaman sekolah untuk mengajarkan keterampilan hidup kepada murid-muridnya. Mereka diajarkan bercocok tanam, panen, hingga memasaknya. 

"Saya belajar tentang menanam sayuran, membuat pupuk organik, bagaimana mengolah tanah," kata salah seorang murid bernama Seyha yang berusia 12 tahun, menambahkan bahwa pengetahuan tersebut membantu meningkatkan kebun sayur keluarganya.

Lebih dari 1.000 sekolah di seluruh Kamboja memiliki program pangan yang didukung oleh WFP. Sekitar 50 perkebunan sekolah didirikan dengan bantuan dari kelompok hak asasi global Plan International.

Sebelum pelajaran dimulai, setiap harinya murid-murid disajikan sarapan gratis berupa nasi dan sup ikan dengan sayuran yang ditanam di kebun sekolah. 

Program ini berhasil membuat kemajuan dalam mengatasi kekurangan gizi di Kamboja. Kekurangan gizi kronis pada anak balita turun dari 32 persen pada 2014 menjadi 22 persen. Tetapi ada kekhawatiran bahwa inflasi dapat menghambat momentum.

Baca Juga: Kala Perkebunan Sekolah Selamatkan Anak-anak dari Kelaparan
Perkebunan Porang Di Sidrap Jadi Magnet untuk Belajar

"Naiknya harga pangan kemungkinan akan memperburuk tingkat kekurangan gizi anak yang sudah tinggi, tepat ketika negara itu mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan dari dampak ekonomi pandemi," kata kantor Nutrisi PBB di Kamboja dalam sebuah pernyataan.

Malnutrisi merugikan ekonomi Kamboja lebih dari 400 juta dolar AS per tahun atau sekitar 2,5 persen dari PDB Kamboja, menurut sebuah studi yang didukung oleh UNICEF. 

 

Video Terkait