Gencar Kirim Ahli Sains dan Teknologi, Industri Teh Cina Maju Pesat

Ilustrasi perkebunan teh. (pixabay)

Editor: Dera - Jumat, 16 September 2022 | 15:15 WIB

Selama beberapa tahun terakhir, Pemerintah Beijing telah mengirim ratusan ribu ahli sci-tech (sains-teknologi) ke pedesaan Cina untuk mendukung sektor pertanian. Di Fujian misalnya, lebih dari 64.000 penugasan ahli sci-tech telah diselesaikan di provinsi tersebut.

Salah seorang ahli sci-tech yang dikirim ke Fujian adalah Liu Guoying. Dia menjadi terkenal karena keahliannya dalam memproduksi sejenis teh oolong yang dikenal dengan nama 'Wuyi Rock Tea', seperti diberitakan China Daily.

Pada awal tahun 2000, Liu dikirim ke Desa Tianxin di Kota Wuyishan, Provinsi Fujian. Saat itu, lebih dari separuh penduduk desa mencari nafkah dengan menanam teh dan menyiapkannya untuk dijual. Namun, industri teh di Tianxin menghadapi beberapa kesulitan, seperti produksi dan kualitas yang rendah.

Setelah mengunjungi perkebunan teh dan workshop secara langsung, Liu menemukan bahwa industri teh itu terhambat karena hanya memiliki satu varietas dan menerapkan teknik produksi yang sudah ketinggalan zaman.

Guna membantu meningkatkan industri, dia mulai melakukan budidaya tanaman teh dan melakukan transformasi pertanian teh hasil rendah. Liu juga sering mengunjungi pabrik teh untuk meningkatkan keterampilan produksi.

Usahanya tidak sia-sia. Dalam empat tahun, rata-rata hasil teh meningkat lebih dari 50 persen, sementara pendapatan per kapita petani teh meningkat 2.700 yuan (sekitar Rp5,8 juta).

Selama beberapa dekade, Liu mengadakan sesi pelatihan tentang penanaman dan produksi teh untuk lebih dari 10.000 orang.

Saya akan terus bekerja di perkebunan teh sebagai ahli sci-tech, serta membantu menghidupkan industri teh dan daerah pedesaan, kata Liu.

Di Wuyishan, ratusan ahli penanaman teh seperti Liu telah dikirim ke pedesaan. Banyak dari mereka yang bekerja dalam tim.

Contohnya adalah Liao Hong, seorang ahli agronomi di Universitas Pertanian dan Kehutanan Fujian yang mulai mempromosikan perkebunan teh ramah lingkungan di Wuyishan pada tahun 2018.

Setelah penelitian yang panjang, Liao dan timnya menemukan bahwa penanaman pohon teh secara tahunan mengonsumsi nutrisi tanah yang berlebihan dan menyebabkan degradasi tanah.

Guna meningkatkan kualitas tanah dan teh, Liao dan timnya mengusulkan pendekatan ramah lingkungan dengan menanam teh bersama kedelai dan rapeseed.

Sebagai bagian dari proyek polikultur, ketika tanaman dipanen dan ditanam di ladang pada akhir Maret, tanaman itu menyediakan sumber fosfat dan kalium yang kaya untuk tanaman teh. Ketika musim panen daun teh berakhir pada akhir Mei, kedelai ditanam untuk membantu menyimpan nitrogen di dalam tanah.

Salah seorang petani yang menerapkan polikultur di kebun teh sejak tahun 2018 adalah Yang Wenchun. Dia mengaku, metode itu berdampak positif terhadap kebunnya.

“Metode ini membawa kejutan. Tidak hanya hasil dan kualitas teh yang meningkat, tetapi harga teh hampir 30 persen lebih tinggi dari sebelumnya,” ujar Yang, seperti dikutip China Daily.

Baca Juga: Gencar Kirim Ahli Sains dan Teknologi, Industri Teh Cina Maju Pesat
Dikenal Mancanegara, Ini 5 Daerah Penghasil Teh Terbesar di Indonesia

Pada 2019, Yang mendirikan koperasi khusus dengan lebih dari 50 rumah tangga untuk mempromosikan pendekatan baru tersebut.

Pada akhir tahun 2021, Wuyishan telah membangun 5.600 hektare perkebunan teh ramah lingkungan. Setiap rumah tangga penanam teh mampu mengurangi penggunaan pupuk tahunan rata-rata 6 ton.

Video Terkait