Deforestasi untuk Kelapa Sawit di Indonesia Turun, Ancamannya Masih Ada

Ilustrasi kelapa sawit. (Antara)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Senin, 3 Oktober 2022 | 14:00 WIB

Sariagri - Penilaian baru terhadap ekspor minyak sawit dari Indonesia (2018-2020) menunjukkan adanya penurunan deforestasi secara nasional terkait dengan ekspor sektor tersebut.

Data terbaru dari Trase (inisiatif transparansi berbasis data) mengungkapkan penurunan angka deforestasi ini terkait dengan komitmen para eksportir untuk menjalankan program nol-deforestasi (ZDC).

Eksportir atau produsen yang memproses 87% ekspor minyak sawit olahan pada 2018–2020, juga dikaitkan dengan risiko deforestasi yang lebih rendah.

"Transparansi perusahaan kini telah muncul sebagai faktor positif, yang sebelumnya tidak selalu terjadi," kata Dr Robert Heilmayr dari University of California Santa Barbara (UCSB), yang memimpin penelitian Trase.

Namun, keberhasilan penurunan deforestasi ini dinilai rapuh di tengah kenaikan harga dan peningkatan pangsa pasar minyak kelapa sawit yang bisa dimanfaatkan oleh produsen yang selama ini tidak transparan dengan data deforestasinya.

Data yang dirilis Trase menemukan bahwa eksportir dengan komitmen nol-deforestasi (ZDC) secara konsisten memasok 70% risiko deforestasi per ton dibanding eksportir lainnya, demikian dilansir sei.org.

"Ini adalah bukti jelas pertama dari hubungan antara ZDC dan risiko deforestasi yang lebih rendah dalam rantai pasokan minyak sawit," kata Dr Heilmayr.

Menurut data Trase, pasar terbesar untuk minyak sawit Indonesia yakni China, India dan pasar domestik cenderung bergantung pada rantai pasokan yang lebih berisiko, yakni 2,4 kali risiko deforestasi per metrik ton dibandingkan dengan ekspor ke UE.

"Hutan Indonesia belum keluar dari bahaya (deforestasi), .. 2,4 juta hektar (ha) hutan utuh masih ada di konsesi kelapa sawit yang ada," kata Direktur Eksekutif Auriga Nusantara Timer Manurung. "Daerah kaya hutan di Kalimantan, Papua, Aceh, dan Sulawesi akan menghadapi tekanan jika produksi diperluas, terutama jika pabrik baru dibangun di area dengan lebih sedikit pabrik saat ini," imbuhnya.

“Data Trase menunjukkan Indonesia membuat kemajuan yang mengesankan. Namun kisah Brasil setelah 2012 memperingatkan kita bahwa keuntungan dalam perlindungan hutan sangat rapuh dan mudah hilang," kata Helen Bellfield, Wakil Direktur Trase di Global Canopy.  

Karena itu menurutnya, sekarang saatnya untuk mengintensifkan upaya pemerintah dan sektor swasta, seperti memperkuat standar ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil) dan meningkatkan implementasi ZDC, termasuk pelaporan ketertelusuran yang lebih rinci.

"Deforestasi untuk kelapa sawit di Indonesia telah menurun secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir, dan data kami menunjukkan bahwa penurunan terbesar terjadi pada rantai pasokan yang diatur oleh komitmen nol-deforestasi," kata Dr Toby Gardner, Direktur Trase dan Peneliti Senior di SEI.

Namun ia juga mengingatkan, "Pencapaian ini rapuh, dan kenaikan harga minyak sawit serta meningkatnya peran pedagang yang memiliki tingkat transparansi publik yang lebih rendah mengancam untuk melemahkan kemajuan,"tambahnya.

Ia juga menyarankan untuk mempercepat pelaksanaan komitmen yang ada, dan memastikan bahwa standar ditingkatkan di seluruh sektor, termasuk melalui langkah-langkah regulasi. Hal ini sangat penting untuk mempertahankan kemajuan dan terus mengekang deforestasi ekosistem.

Penyumbang terbesar deforestasi

Menurut data Trase, deforestasi tahunan kelapa sawit pada 2018-2020 adalah 45.285 ha per tahun, atau hanya 18% dari rata-rata antara 2008-2012, yang merupakan periode puncak deforestasi selama dua dekade terakhir.

Baca Juga: Deforestasi untuk Kelapa Sawit di Indonesia Turun, Ancamannya Masih Ada
Mencari Akar Masalah dan Cara Menyelesaikan Konflik Kelapa Sawit



Kalimantan dan Papua menyumbang 77% dari semua deforestasi yang didorong oleh kelapa sawit pada 2018–2020. Minyak sawit yang diproduksi di provinsi Papua mengalami peningkatan risiko deforestasi sebesar 24%. Angka ini berasal dari produksi minyak sawit Papua yang meningkat hampir dua kali lipat pada 2018–2020, dari lahan yang baru dibuka pada 2008–2017.

Trase menyebut, KPN Corp, Astra Agro Lestari dan Citra Borneo Indah (CBI) termasuk di antara produsen dengan pertumbuhan tercepat, dan tidak merilis laporan keterlacakan (deforestasi) pada tahun 2020, meskipun mereka mengadopsi ZDC. Minyak sawit yang diproduksi para produsen tersebut memiliki risiko deforestasi 1,7 kali lebih besar dari eksportir lainnya.

Video Terkait