PETA Investigasi Industri Kelapa Thailand yang Eksploitasi Monyet

Ilustrasi monyet. (Pixabay)

Editor: Reza P - Sabtu, 26 November 2022 | 21:00 WIB

Sariagri - Kelompok hak asasi binatang, People for the Ethical Treatment of Animals (PETA), menyerukan boikot terhadap semua produk kelapa Thailand. Mereka mengatakan bahwa eksploitasi monyet untuk memetik kelapa sangat merajalela di industri makanan dan minuman. 

Mengutip dari laman Euro News, banyak monyet di Thailand yang didapat secara ilegal, dirantai dan dipaksa untuk memetik kelapa. Kelapa-kelapa tersebut diketahui dipasok untuk merek santan terkemuka di negara itu, menurut penyelidikan PETA.

Penyelidik dari PETA mengunjungi pemetik kelapa, calo, peternakan dan sekolah pelatihan monyet di sembilan provinsi Thailand dari Desember 2021 hingga Juli 2022.

Mereka menggambarkan penganiayaan yang mengerikan. Salah satunya, apa yang disebut sekolah monyet adalah di mana monyet-monyet menjadi sasaran pelatihan kasar sebelum dijual ke pemetik kelapa.

“Penyelidik PETA melihat spesies monyet yang terancam punah dirantai erat di lehernya ketika tidak dipaksa untuk bekerja dan terus ditambatkan di daerah yang sering banjir dan dipenuhi sampah dengan sedikit perlindungan,” mengutip pernyataan dari organisasi tersebut.

“Seorang pelatih bahkan tertangkap kamera menyerang monyet yang berteriak, menggantungnya dengan tali dan memukulinya dengan rantai logam,” tambahnya. 

Dalam contoh lain, penyelidik melihat monyet betina dieksploitasi untuk terus berkembang biak dan dirantai sendirian di bawah sinar matahari. Sementara monyet yang masih muda terlihat dikunci di kandang.

Seorang pemetik kelapa mengatakan kepada penyelidik bahwa monyet menghadapi risiko fatal dalam melakukan "pekerjaan" mereka. Risiko tersebut termasuk disengat lebah dan jatuh dari pohon dan patah tulang.

“Beberapa pemetik kelapa menarik tali yang diikat ke hewan, dilaporkan menyebabkan monyet jatuh,” jelas PETA.

Pekerja lain mengatakan kepada penyelidik PETA bahwa monyet akan dipaksa untuk memetik kelapa selama lebih dari satu dekade sebelum "pensiun" kemudian dirantai selama sisa hidupnya.

Monyet lain mungkin ditinggalkan di hutan, meskipun tidak memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk bertahan hidup sendiri setelah dibesarkan di penangkaran atau diculik sejak remaja, kata PETA.

Perusahaan Terkemuka yang Gunakan "Jasa Monyet" 

PETA menuduh layanan pengiriman makanan terkemuka di Thailand, HelloFresh, menggunakan pemasok santan yang terkait dengan pekerja monyet.

Baca Juga: PETA Investigasi Industri Kelapa Thailand yang Eksploitasi Monyet
Hasilkan Bibit Unggul, Kementan Bangun Pembibitan Modern Kelapa

Pialang untuk pemasok santan HelloFresh menunjukkan kepada penyelidik bahwa monyet-monyet dirantai tanpa akses ke tempat perlindungan yang memadai. PETA juga menerbitkan foto dan video dari penyelidikan tersebut. Pihak HelloFresh kemudian mengonfirmasi secara tertulis bahwa semua pemasoknya tidak terlibat dalam praktik semacam itu.

“HelloFresh mengutuk keras penggunaan tenaga kerja monyet dalam rantai pasokannya dan kami mengambil posisi keras untuk tidak membeli dari pemasok atau menjual produk kelapa yang terbukti menggunakan tenaga kerja monyet,” kata perusahaan tersebut.