Kaki Terkena Ranjau, Serda Mugiyanto Bangkit Jadi Petani Kelengkeng

Anggota TNI Anggota Kodim 0705 Magelang, Serda Mugiyanto (Foto: Youtube/Kementerian Pertanian RI)

Penulis: M Kautsar, Editor: Reza P - Rabu, 22 April 2020 | 11:00 WIB

SariAgri -  "Keterbatasan bukan menjadi halangan untuk berkarya dan berprestasi."

Ucapan tersebut muncul dari prajurit TNI Anggota Kodim 0705 Magelang, Serda Mugiyanto. Bukan datang dari ruang kosong, Mugiyanto merasakan sendiri bagaimana menjadi kekurangan fisik karena tugas yang dialaminya.

Mugiyanto bercerita kehilangan kaki kirinya karena ranjau saat bertugas di Pamrahwan Maluku. "Saat bertugas di Ambon saya kecelakaan. Saya kena ranjau di sana," kata Mugiyanto, diakses dari Youtube Kementerian Pertanian, Selasa, 21 April 2020.

Usai bangkit dari keterpurukan, Mugiyanto mendapat pelatihan dari Pusat Rehabilitasi Kementerian Pertahanan. Di sana, Mugiyanto mendapat pelatihan di bidang pertanian.

Usai mendapat pelatihan, Mugiyanto kembali ke kampung halamannya di Magelang, Jawa Tengah pada 2007. Di tahun itu, dia memulai bertani Durian dan alpukat.

Mugiyanto memulai berkebun kelengkeng pada 2014 dengan Kebun Buah Borobudur. Setahun berselang dia memilih varietas kelengkeng unggulan yaitu, kelengkeng kateki.

"Dia mempunyai beberapa keunggulan diantara tanaman ini bisa dibuahkan kapan saja sesuai keinginan kita asal izin yang di atas," ucap dia.

Mugiyanto menyebut, pembuahan kelengkeng kateki bisa terjadi di luar musim panen. Dari pengalamannya, setiap tandan pohon bisa mencapai satu hingga lima kilogram.

Selain itu, kata dia, buah kelengkeng kateki ini memiliki rasa manis dan Daging tebal. "Buahnya bisa bertahan suhu kamar 4 hingga 5 hari tanpa ada pengawet," kata dia.

Di atas satu hektar Sawah kebun miliknya, saat ini Mugiyanto memiliki 250 pohon kelengkeng. Dia menggunakan sistem irigasi pipa satu pohon satu keran air.

Untuk pendapatan, Mugiyanto menyebut setiap tahun perkebunannya berpotensi menghasilkan 50 ton. Tapi, saat ini, dia baru bisa menghasilkan sekitar 15 ton.

"Ini kalau analisa untuk mencapai Rp500 juta sangat mudah. Petani itu tidak kotor. Petani itu penghasilannya sangat luar biasa," ucap dia.

Baca Juga: Kaki Terkena Ranjau, Serda Mugiyanto Bangkit Jadi Petani Kelengkeng
Salah Kaprah Jeruk Bali, Buah yang Bukan Berasal dari Pulau Dewata

Saat ini, Perkebunan yang dikembangkan tidak hanya mengandalkan buah kelengkeng. Dia juga membuat agroedukasi, agroeduwisata, dari hasil buahnya kita mendapatkan, dari kunjungan-kunjungan wisata, serta menyediakan penjualan benih.

Dengan model bisnis itu, dia bisa membantu masyarakat sekitar. "Banyak kunjungan dari Sabang sampai Merauke itu ada di sini. Dan itu dipastikan menginap. Perputaran tidak hanya di sawah tapi juga di masyarakat sekitar," ucap dia.

Video Terkait