Kenali Perbedaan Aroma dan Cita Rasa Beragam Jenis Teh

Perkebunan teh (Pixabay)

Editor: Arif Sodhiq - Kamis, 30 April 2020 | 23:00 WIB

SariAgri - Banyak jenis teh namun hanya terbagi dalam tiga kategori utama yakni teh murni, teh herbal, dan teh beraroma. Pengkategorian ini berdasarkan tanaman yang digunakan untuk membuat teh. Masing-masing kategori memiliki subkategori yang membuat perbedaan berbagai jenis teh.

Mungkin pecinta teh pemula terkejut ketika mengetahui rasa teh herbal sebenarnya bukan berasal dari teh yang sesungguhnya. Itu karena jenis teh ini tidak mengandung bagian dari tanaman teh yang dikenal dengan nama ilmiah Camellia sinensis. Teh herbal dan teh beraroma dicampur dengan rempah-rempah, bumbu, dan bunga untuk menghasilkan apa yang disebut  'tisane'.

Berikut jenis-jenis teh seperti dikutip dari cupandleaf.com:

A. Teh Murni (Pure Tea)

Teh murni adalah teh yang dibuat dari daun tanaman Camellia Sinensis. Teh ini merupakan teh tradisional yang ditemukan ribuan tahun silam. Ada lima teh murni yakni teh putih, teh hijau, teh Oolong, teh hitam, dan teh Pu-erh. Ini adalah teh yang dirujuk sebagian besar ilmuwan ketika melakukan penelitian tentang manfaatnya untuk kesehatan.

Meski teh berasal dari daun tanaman yang sama, tetapi berbeda dalam rasa, aroma, dan tampilannya. Teh putih lembut dan melegakan, sedangkan teh hitam sangat menyengat. Perbedaan rasa dan aroma teh meski berasal dari daun yang sama karena berbeda proses pengolahannya.

Teh murni seperti Oolong dan teh hitam telah mengalami proses oksidasi. Proses ini mengekspos enzim dalam daun teh terhadap oksigen, yang menghasilkan penggelapan daun. Teh murni lainnya seperti teh putih dan teh hijau dijaga prosesnya agar tidak teroksidasi. Ini menghasilkan rasa yang lebih lembut dan lebih alami.

1. Teh Putih (White Tea)

Teh putih adalah teh asli yang paling sedikit prosesnya guna mempertahankan tampilan dan rasa alami. Daun teh dipetik dengan tangan kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari alami. Hanya daun termuda dari tanaman teh yang digunakan untuk membuat teh putih. Biasanya, produsen memanen hanya dua daun pertama dari setiap pucuk teh.

Sebagian besar teh putih diproduksi di Provinsi Fujian, Cina. Namun baru-baru ini, perkebunan teh putih telah dikembangkan di Sri Lanka dan Afrika. Teh putih baru ini dijual sebagai White Ceylon dan African White untuk membedakan dari teh putih tradisional produksi Cina.

Dua varietas teh putih kualitas tertinggi adalah Silver Needle dan White Peony. Silver Needle dibuat hanya menggunakan tunas tanaman daun teh yang rasanya manis. Sedangkan White Peony dibuat menggunakan tunas dan daun dari tanaman Camellia Sinensis. Teh putih memiliki rasa manis yang kuat dan agak tajam.

2. Teh Hijau (Green Tea)

Seperti teh putih, teh hijau terbuat dari daun yang prosesnya minimalis. Daun teh hijau tidak teroksidasi, tetapi proses produksinya sedikit lebih lama dari teh putih.

Daun teh hijau dipanen dengan tangan kemudian disebar di atas bambu besar atau tikar agar layu. Proses ini membantu mengurangi kadar air daun teh. Setelah layu, daun teh dihancurkan dengan panas untuk mencegah oksidasi.

Umumnya teh hijau diproduksi di Cina dan Jepang. Sebagian besar teh hijau Cina dikeringkan menggunakan pan-firing atau metode memanggang sehingga teh hijau Cina cenderung memiliki rasa bakar.

Sementara teh hijau Jepang biasanya dikeringkan dengan uap untuk menciptakan aroma rerumputan dan sayuran. Teh hijau Jepang cenderung memiliki rasa lebih lembut dan lebih manis dibanding teh hijau Cina.

Varietas teh hijau Jepang yang populer termasuk Sencha, Matcha, dan Genmaicha. Teh hijau Sencha adalah teh hijau Jepang yang paling banyak tersedia. Rasanya agak manis dan biasanya dijual dalam gelendongan halus.

Teh Matcha adalah teh yang tumbuh di tanah bebatuan dan dijual dalam bentuk bubuk halus. Teh ini biasanya diseduh dalam latte dan sebagai bahan campuran makanan.

Sedangkan Teh Genmaicha adalah campuran daun teh hijau yang dicampur dengan biji beras. Rasa teh dengan harga terjangkauini mirip dengan teh hijau Cina.

3. Teh Oolong

Teh Oolong di Cina yang dikenal sebagai "teh wulong," adalah teh semi-teroksidasi. Daun teh dibiarkan teroksidasi, tetapi hanya dalam waktu singkat. Rasa dan warna teh Oolong lebih kuat dari teh hijau, tetapi lebih lembut dari teh hitam.

Daun teh Oolong mengalami proses produksi yakni panen tangan, pelayuan, penggulungan, oksidasi jangka pendek, dan pengeringan.

Teh Oolong dibudidayakan secara eksklusif di Cina dan Taiwan. Sebagian besar teh Oolong diklasifikasikan berdasarkan wilayah penanamannya. Rasa teh Oolong bervariasi tergantung tempat tumbuhnya serta berapa lama daun teroksidasi. Teh Oolong dapat mengalami oksidasi antara 8 hingga 80 persen.

Teh Oolong yang paling tidak teroksidasi disebut Pouchong, beraroma bunga dan rasanya mirip teh hijau. Sedangkan teh Oolong paling teroksidasi buatan Cina dikenal sebagai Da Hong Pao dengan rasa yang kuat.

4. Teh Hitam (Black Tea)

Teh hitam adalah teh yang mengalami proses paling panjang yakni pelayuan, penggulungan, oksidasi, dan pengeringan. Panjangnya proses produksi menghasilkan teh tebal yang mengingatkan pada rasa kopi.

Teh hitam paling banyak diproduksi di Cina, India, Sri Lanka, dan Afrika. Daerah tumbuh teh hitam terbesar adalah Assam dan Darjeeling di India serta Nilgiri, Sri Lanka. Teh hitam, seperti teh Oolong, biasanya dinamai sesuai daerah tempat produksi.

Teh hitam yang dibudidayakan di Assam sepenuhnya teroksidasi dan tampak dalam warna hitam pekat. Sedangkan tanaman teh di Darjeeling hanya mengalami semi-oksidasi karena kondisi iklim daerah tersebut.

Teh hitam Ceylon yang dibudidayakan di Sri Lanka ditandai dengan bentuk daun panjang dan kurus. Sebagian besar teh hitam Cina termasuk Keemun dibudidayakan di Provinsi Yunnan. 

5. Pu-erh Tea

Teh pu-erh dibuat dari daun tanaman Camellia Sinensis yang telah dioksidasi. Teh pu-erh terdiri dari dua kategori pu-erh mentah dan pu-erh tua. Teh pu-erh mentah mengalami proses produksi yang mirip dengan teh hijau. Daun dipanen, layu, dan kemudian dipanaskan untuk mencegah oksidasi.  Proses yang dikontrol dengan hati-hati memungkinkan daun menua seperti anggur berkualitas.

Seiring bertambahnya usia daun, teh mengalami proses oksidasi alami. Daun teh pu-erh biasanya berumur 10 hingga 15 tahun. Teh pu-erh dengan kualitas tertinggi dapat berumur hingga 50 tahun.

B. Teh Ramuan Herbal

Teh herbal tidak mengandung daun dari tanaman teh. Sebaliknya, minuman ini dibuat dengan menanamkan rempah-rempah, bumbu, bunga, dan ranting dalam air panas. Ada ribuan rasa teh herbal karena dibuat dari berbagai macam tanaman yang diinfusi.

Teh rempah-rempah yang populer termasuk teh kunyit, teh jahe, dan teh peppermint. Ada juga ratusan teh bunga seperti teh kembang sepatu, teh lavender, dan teh melati.

Teh herbal kini dikenal dalam dunia pengobatan tradisional seperti Ayurveda yang sudah berlangsung selama ribuan tahun.

C. Teh Beraroma (Flavoured Tea)

Teh beraroma dibuat dengan menggabungkan teh asli dengan herbal. Teh asli seperti teh hijau atau teh hitam digunakan sebagai bahan dasar, sementara bumbu, rempah-rempah, dan bunga ditambahkan untuk membuat rasa yang menakjubkan.

Baca Juga: Kenali Perbedaan Aroma dan Cita Rasa Beragam Jenis Teh
Lima Jenis Teh Termahal di Dunia

Beberapa teh rasa yang paling populer termasuk Earl Grey dan Masala Chai. Earl Grey adalah teh yang populer di Inggris dengan rasa teh hitam jeruk.

Masala chai adalah minuman populer di India yang menggabungkan rempah-rempah dan teh hitam. Biasanya, Masala Chai dibuat dengan teh hitam Assam atau Darjeeling dan lima rempah: lada hitam, kapulaga, cengkeh, kayu manis, dan jahe. Teh ini menawarkan rasa pedas dengan penambahan kacang krim atau susu. (Marthin Budilaksono)

Video Terkait