Tak hanya Tebu, Singkong Juga Bisa Diolah Menjadi Gula

Seorang petani asal Kediri bersihkan ketela pohon atau singkong (SariAgri/Arief L)

Penulis: Arif Sodhiq, Editor: Redaksi Sariagri - Senin, 5 Oktober 2020 | 16:15 WIB

SariAgri - Kebutuhan gula di tanah air terus meningkat. Alternatif untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan memanfaatkan secara maksimal sumber gula dari bahan non tebu.

Sebagian besar orang mungkin hanya mengenal gula terbuat dari tebu. Padahal banyak sumber bahan lain yang bisa diolah untuk menghasilkan gula.

Balai Besar penelitian dan Pengembangan Pascapanen pertanian (BB Pascapanen) telah mengembangkan teknologi untuk menghasilkan gula cair dari ubi kayu atau singkong.

“Untuk memproduksi gula, bahan yang bisa dimanfaatkan antara lain tebu, sorgum manis, kelapa, aren dan nipah yang diambil dari niranya. Sumber gula lain adalah bahan berpati seperti sagu, ubi jalar, jagung, kentang,sorgum dan ubi kayu atau singkong,” ujar Peneliti BB Pascapanen, Agus Budiyanto mengatakan Peneliti BB Pascapanen, Agus Budiyanto mengatakan .

Saat ini BB Pascapanen telah mengembangkan teknologi sederhana untuk menghasilkan gula cair dari pati singkong. Untuk menghasilkan gula cair, pati singkong harus mengalami proses likuifikasi, sakarifikasi dan evaporasi.

Berita Perkebunan - Baca Juga: Waspadai Serangga Musuh Biji Kakao dalam Penyimpanan
5 Pekerjaan Ini Cocok Buat Pencinta Teh

Agus dilansir laman Balitbangtan menerangkan, langkah pertama untuk pembuatan gula cair adalah dengan mencampurkan pati singkong dan air dengan perbandingan 1:3 atau 1 kg pati singkong dicampur 3 liter air. Cairan tersebut kemudian diaduk sampai tidak ada gumpalan.

Proses selanjutnya adalah likuifikasi dengan cara memanaskan cairan dan memasukkan enzim alfa amilase. Perbandingannya 1 ml enzim alfa amilase untuk 1 kg pati singkong.

Agar pati tidak menggumpal menjadi semacam lem, Agus menyarankan agar mencampurkan enzim alfa amilase sebelum dipanaskan selanjutnya diaduk hingga merata.

Saat proses pemanasan, campuran pati akan terjadi perubahan warna secara bertahap dari putih hingga warna kecoklatan. Apabila saat mendidih masih terdapat bintik-bintik berwarna putih, pemanasan tetap dilakukan sampai bintik-bintik putih menghilang. Hentikan pemanasan saat warnanya coklat jernih.

Cairan didinginkan sampai suhu sekitar 60 derajat Celcius, kemudian dimasukkan enzim amiloglukosidase (perbandingan 1 ml enzim amiloglukosidase untuk 1 kg pati ubikayu) dan diaduk selama 5-10 menit. Diamkan minimal selama 24 jam. Proses pada tahap ini disebut sakarifikasi.

Setelah proses sakarifikasi, cairan ditambah dengan arang aktif 0,5% dan dipanaskan pada suhu 100 derajat Celcius selama 5 menit. Cairan disaring dengan kain yang rapat dan tebal seperti kain berbahan jins. Proses penyaringan ini akan menghasilkan gula cair dengan total padatan terlarut sekitar 20-25 derajat Brix.

“Karena masih rendah kadar Brix-nya, kita lakukan evaporasi. Dengan proses ini kita akan mendapatkan gula cair singkong dengan kadar 65-70 derajat Brix,” terangnya.

Teknologi pengolahan gula cair dari ubi kayu ini bisa menjadi alternatif untuk pemenuhan kebutuhan gula di Indonesia.

Kepala BB Pascapanen Dr. Prayudi Samsuri mengatakan, dalam mengembangkan suatu inovasi teknologi, BB Pascapanen selalu melihat pohon industri dari komoditas pertanian. Jika kita hanya fokus mengolah singkongnya, hanya 20% dari tanaman yang dimanfaatkan.

“Dengan pohon industri kita coba sama-sama kembangkan sehingga kita bisa memberi nilai tambah dari suatu komoditas,” katanya.

Baca Juga: Tak hanya Tebu, Singkong Juga Bisa Diolah Menjadi Gula
Mengintip Kampung Cokelat di Nglanggeran yang Sukses Budidaya Kakao

Sebelumnya, Kepala balitbangtan Fadjry Djufry menyebut singkong atau ubi kayu merupakan komoditas pangan yang memiliki nilai ekonomi tinggi, terutama disebabkan karena tingginya permintaan akan tapioka.

“Oleh karenanya selain padi, jagung, dan kedelai, ke depan ubi kayu bisa menjadi komoditas strategis nasional,” katanya. 

Video Terkait