Ini Empat Jenis Kopi Paling Populer Dunia

berita perkebunan - Petani kopi Semendo memetik buah kopi semendo yang matang di area perkebunan kopi milik warga Semendo Darat Ulu Muara Enim, Sumatera Selatan, Senin (4/2). (ANTARA/Feny Selly/Koz/ama/13)

Penulis: M Kautsar, Editor: Redaksi Sariagri - Senin, 7 Desember 2020 | 14:15 WIB

SariAgri - Kopi, salah satu komoditas perkebunan paling populer dunia ini kian marak dengan munculnya beragam varian rasa dan metode penyajian.

Jenis kopi pun mulai bertambah, biasanya dinamai sesuai dengan daerah penghasil kopi itu sendiri lengkap dengan rasa serta aroma yang khas.

Namun seiring perkembanganya, ada beberapa jenis kopi yang selama ini dikenal dan paling populer di dunia. Berikut rangkumannya.

Berita Perkebunan - Baca Juga: Perkenalkan Sorgum, Tanaman Pangan yang Tahan Terhadap Musim Kemarau
Pakar: Benih dengan Postur Tinggi Cocok untuk Lahan Rawa

Kopi Arabika

Inilah jenis kopi yang paling lama dikenal seluruh dunia, kopi arabika adalah jenis yang pertama dibudidayakan oleh manusia. Kopi ini berasal dari Etiopia dan Brazil. Pertamakali diklasifikasikan oleh ilmuwan Swedia bernama Carl Linnaeus (Carl von Linne) pada tahun 1753.

Kopi jenis ini memiliki kandungan kafein 0.8-1,4 persen dan tumbuh subur pada ketinggian 700-1700 mdpl dengan suhu 16-20 derajat celcius. Secara morfologi kopi arabika memiliki akar yang dalam, berdaun tipis, percabangan lentur, dan ukuran biji yang jauh lebih kecil berwarna hijau tua dan gelap.

Kopi arabika membutuhkan waktu 9 bulan untuk berbunga dan berbuah namun perlu perawatan yang lebih intes dari jenis kopi lainnya. Sebab itu harga kopi arabika termasuk tinggi di pasaran dunia, dan tentu saja karena rasanya lebih nikmat dengan aroma kuat.

Di Indonesia kopi arabika banyak di tanam di perkebunan daerah pegunungan Toraja, Sumatera Utara, Aceh, dan Pulau Jawa. Jenis yang dikembangkan diantaranya, arabika abesinia, arabika pasumah, marago, typica, dan arabika congansis.

Kopi Robusta

Jenis kopi ini merupakan keturunan beberapa spesies kopi terutama jenis Coffea canefora. Kopi robusta tumbuh baik di ketinggian 400-700 mdpl dengan temperatur 21-24 derajat celcius. Kualitas buah lebih rendah dari jenis kopi arabika dan liberika.

Coffea canefora adalah nenek moyang kopi robusta merupakan tanaman kopi yang berasal dari hutan dataran tinggi di Ethiopia yang juga tumbuh di Afrika Tengah dan Afrika Barat, terbentang dari Liberia hingga Tanzania dan bagian selatan Angola.

Secara morfologis, kopi robusta memiliki akar yang dangkal, dan tumbuh menjadi perdu hingga mencapai 10 meter. Masa berbunganya tidak teratur dan membutuhkan waktu lebih lama dari kopi arabika yaitu sekitar 10-11 bulan. Kelebihannya, kopi robusta tahan terhadap serangan hama penyakit dan hasil panen bisa lebih banyak dari kopi arabika.

Sayangnya rasa dan aroma kopi robusta tidak senikmat arabika, rasanya cenderung pahit dan kandungan kafeinnya lebih tinggi yaitu bisa mencapai 2,7 persen. Harga pasaran dunia kopi robusta juga tidak semahal kopi arabika.

Kopi Liberika

Kopi Liberika merupakan jenis kopi endemik yang berasal dari Liberia Afrika Barat. Awalnya kopi ini dikategorikan sebagai kopi robusta. Namun belakangan jadi spesies kopi berbeda dengan nama ilmiah Coffea liberica. Perubahan ini terjadi karena ternyata secara morfologis kopi liberika tidak sama dengan robusta.

Kopi liberika di Indonesia dibawa oleh orang-orang belanda untuk menggantikan kopi arabika yang terserang hama penyakit. Namun ternyata kopi ini juga termasuk rentan terhadap penyakit HV, Hemileia vastratix atau penyakit karat daun.

Dapat tumbuh sekitar 9 meter dari tanah dengan ukuran daun, bunga, cabang, buah dan pohon lebih besar dibanding arabika dan robusta, mirip seperti pohon nangka. Kopi liberika mampu berbuah sepanjang tahun dan tumbuh subur di dataran lebih rendah yaitu 400-600 mdpl dengan suhu 27-30 derajat celcius.

Aroma kopi liberika memiliki aroma khas seperti nangka, dengan rasa pahit yang lebih kental serta aroma lebih tajam. Biasanya disajikan sebagai bahan campuran susu atau campuran kopi robusta untuk memberi aroma lebih tajam.

Kopi Excelsa

Kopi jenis ini merupakan varian dari kopi liberika dengan nama ilmiah Coffea liberica var.dewefrei. buahnya lebih kecil dari liberika biasa, berkulit tipis dengan warna daun kemerahan. Ditemukan pertama kali di Afrika Barat di dekat danau Chad oleh botanis asal Prancis, August Chevalier tahun 1905.

Kopi excelsa lebih tahan hama penyakit dan cocok dibudidayakan di dataran rendah dan memiliki toleransi tinggi terhadap tanah yang kurang subur. Bahkan jenis kopi ini bisa ditanam di tanah lempung atau lahan gambut sekalipun.

Kopi jenis ini sedikit dibudidayakan karena kurangnya peminat dan pasar telah dikuasai oleh jenis kopi robusta dan arabika. Rasa dan aroma kopi excelsa cenderung pahit dan tajam, untuk mendapatkan rasa yang lebih nikmat harus dengan air mendidih bukan dengan air panas dari termos atau dispenser. (Sariagri/Aretha Luvi)

Berita Perkebunan - Kenapa Petani Indonesia Miskin?

Video Terkait