Indonesia-Malaysia Bersatu Melawan Diskriminasi Sawit

Presiden Jokowi menerima PM Malaysia Muhyiddin. (Setkab)

Penulis: Tatang Adhiwidharta, Editor: Arif Sodhiq - Rabu, 10 Februari 2021 | 15:20 WIB

SariAgri -  Indonesia dan Malaysia bergandengan tangan menentang diskriminasi terhadap minyak sawit baik secara bilateral maupun dengan melibatkan pihak-pihak lain. Kedua negara melihat kampanye anti-kelapa sawit oleh negara-negara Uni Eropa sebagai upaya mengaburkan realita.

Pada Jumat (5/2/2021) Presiden Joko Widodo menyambut baik kedatangan Perdana Menteri (PM) Malaysia, Muhyiddin Yassin ke Indonesia. Keduanya membicarakan berbagai sektor, terutama soal sawit.

Jokowi mengatakan Indonesia dan Malaysia merupakan negara tetangga dan serumpun, sudah sepantasnya melawan diskriminasi dan berjuang lebih optimal terkait sawit.

“Indonesia dan Malaysia adalah negara tetangga dekat dan serumpun dan Malaysia juga merupakan salah satu mitra penting Indonesia di bidang perdagangan, di bidang investasi, di bidang pariwisata, dan sosial budaya,” ujar Presiden Jokowi seperti dikutip dari laman Setkab.

"Indonesia akan terus berjuang untuk melawan diskriminasi terhadap sawit dan perjuangan tersebut akan lebih optimal jika dilakukan bersama. Indonesia juga mengharapkan komitmen yang sama dengan Malaysia mengenai isu sawit ini," papar Kepala Negara. 

Untuk diketahui, Organisasi Negara-Negara Penghasil Minyak Sawit (CPOPC) didirikan oleh Malaysia dan Indonesia pada 21 November 2015. Organisasi ini dibentuk untuk memperjuangkan isu-isu berkaitan industri sawit.

Baca Juga: Indonesia-Malaysia Bersatu Melawan Diskriminasi Sawit
Apkasindo: Petani Sawit Bisa Bertahan di Tengah Wabah Corona

Sementara itu, Menteri Perusahaan Perladangan dan Komoditi (KPPK) Malaysia Mohd Khairuddin Aman Razali, menilai kedua negara merupakan penghasil terbesar sawit. Karena itu, pertemuan kedua petinggi negara ini bisa menciptakan kesepakatan untuk membangun dan memelihara sawit.

"Indonesia dan Malaysia yang masing-masing merupakan negara penghasil pertama dan kedua terbesar di dunia, juga senantiasa berusaha mencari kesepakatan dalam membangun dan memelihara industri sawit di kedua-dua negara,” kata Menteri Perusahaan Perladangan dan Komoditi (KPPK) Malaysia Mohd Khairuddin Aman Razali.

Video Terkait