Eksportir Lada Bangka Belitung Diminta Hindari Pengiriman Antarpulau

Ilustrasi lada hitam (pixabay)

Penulis: M Kautsar, Editor: Redaksi Sariagri - Selasa, 2 Maret 2021 | 18:10 WIB

SariAgri - Para eksportir lada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) kemarin berkumpul di Kantor Gubernur Babel. Mereka kumpul atas inisiasi Dirut Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Babel, Prof. Saparudin maksud pertemuan itu agar para eksportir lada bisa menyamakan persepsi dan saling konsolidasi mengenai data ekspor dan pengiriman antar pulau atas komoditi lada Muntok White Pepper.

"Karena kita sinyalir ekspor lada tidak melalui Kantor Pemasaran Bersama (KPB) dan tanpa menggunakan IG (Indikasi Geografis) lada Babel. Karena itu, BUMD Bangka Belitung lakukan rapat konsolidasi dan sinkronisasi data perdagangan lada Muntok White Pepper, ekspor dan antarpulau," kata Saparudin.

Dalam pertemuan tersebut, kata Saparudin, BUMD lagi-lagi menekankan kepada para eksportir bahwa mereka diminta untuk mendukung penuh program Pemerintah Provinsi Babel tentang ekspor komoditi lada agar dilakukan langsung dari Babel dan menghindari pengiriman antarpulau.     

"Karena kalau tidak kita kirim dari sini (Babel) maka output data ekspor komoditi asal Babel, rendah. Jika ekspor dari tempat lain, orang lain yang dapat untungnya, kita malah kecil, padahal komoditinya dari kita. Ini yang kita harapkan bisa disamakan persepsinya dengan para eksportir," kata dia.

Dia mengatakan, Gubernur Babel Erzaldi Rosman sudah menjalankan program pembenahan di Pelabuhan Pangkalbalam, termasuk di dalamnya adalah rencana mendatangkan kapal kontainer lebih rutin dari jadwal yang sudah berjalan saat ini.

Pembenahan itu sendiri telah dimulai dari instruksi Gubernur Erzaldi tentang operasionalisasi 24 jam Pelabuhan Pangkalbalam yang juga sudah dilayangkan kepada PT Pelindo II Pangkalbalam dan Perusahaan Bongkar Muat (PBM) di Babel.

Berita Perkebunan - Baca Juga: Harga TBS di Bangka Kembali Naik, Tembus Rp2.019 per Kg
Indonesia Akan Lawan Kampanye Hitam Sawit

"Kita mengharapkan para eksportir tidak mengirimkan lada melalui daerah lain, tetapi langsung dari Babel," harapnya.

Dia mengatakan, banyaknya komoditi lada yang keluar dari Babel tanpa melalui IG dan KBM membuat data ekspor Babel tidak sinkron dengan jumlah komoditi yang keluar. Sehingga, konsolidasi yang digelar kemarin itu perlu dilakukan dengan melihat data dari eksportir pada tahun 2020, di mana eksportir masih kerap melakukan ekspor dari Prosedur Operasional Baku (POB) daerah lain seperti Lampung, Jakarta, dan daerah lainnya.

Sedangkan, data ekspor komoditi Babel yang langsung dilakukan dari POB Babel sangat penting untuk menambah alokasi dana pusat untuk pengembangan daerah.

"Selama ini, ekspor Babel selalu terdata kecil, sedangkan faktanya komoditi yang keluar dari Babel cukup besar, seperti udang, yang dikirim antar pulau kemudian ekspornya dilakukan dari POB Lampung. Data BPS pun menunjukkan ekspor Babel kecil, padahal kita miliki produksi sawit, karet, dan lainnya yang cukup tinggi," tekannya.

Selain itu, dia khawatirkan  produk seperti lada harus singgah di daerah lain karena memungkinkan terjadi pencampuran lada. Dia menyebut perlu diketahui saat ini produk pangan internasional sudah harus ada 'ketelusuran' produknya.

Maksudnya, konsumen internasional kini tak mau lagi mengkonsumsi sesuatu tanpa tahu bibit, bebet dan bobot barang yang mereka gunakan. "Ketelusuran ini juga sedang dipersiapkan agar lada Babel dikenal baik oleh dunia," tandasnya.

Perkebunan Sawit : Harga Minyak CPO Indonesia Membaik

Video Terkait