Mengangkat Kembali Kopi Preanger ke Dunia dengan Pengolahan Tepat

Mengangkat kembali kopi Garut , kopi Preanger yang sudah terkenal sejak zaman Belanda (Sariagri/Jayadi)

Penulis: Andry, Editor: Reza P - Selasa, 30 Maret 2021 | 10:00 WIB

SariAgri - Pengolahan biji (ceri) kopi yang tepat menjadi salah satu kunci dalam menghasilkan kopi bercita rasa tinggi. Tak terkecuali kopi khas Garut, Jawa Barat yang pamornya sudah dikenal lama sebagai kopi preanger dunia.

Seperti diketahui kopi Garut rata-rata ditanam di ketinggian 1300 mdpl, kopi Garut terdiri dari dua robusta dan arabika. Kedua kopi ini dikenal lama sejak penjajahan Belanda di Indonesia sebagai Kopi Preanger atau Priangan yang termasyhur hingga Eropa saat itu.

Ketua Asosiasi Pengusaha kopi Indonesia (APEKI) Kabupaten Garut, Sopyan Hamidian mengatakan, proses pengolahan buah ceri yang tepat sejak dari tanaman menjadi hal utama yang perlu diperhatikan para pecinta kopi.

“Itu tidak asal petik buah termasuk hingga proses penjemuran,” ujarnya di sela-sela kegiatan cupping review kopi Garut, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, perlakukan para pecinta kopi Garut saat ini belum sepenuhnya memenuhi kriteria, sehingga kualitas kopi yang dihasilkan tidak berbanding lurus dengan tingginya produktivitas kopi Garut.

“Kalau soal produktivitas its ok memang tinggi, namun soal kualitas kami akui belum merata,” ujarnya.

Saat ini total tanam lahan kopi sekitar enam ribu hektar yang tersebar di 26 kecamatan, dari jumlah itu sekitar 3600 hektar tanaman arabika dalam kategori berproduksi, sementara luasan tanam kopi robusta hanya 897 hektar yang tersebar di beberapa kecamatan saja.

“Robusta itu paling banyak di kecamatan Cisompet, Cikelet, Pakenjeng dan sebagian Cisewu,” ujarnya menerangkan.

Untuk menghasilkan kopi bercita rasa tinggi, Sofyan berbagi tips perlakukan kopi sejak petik sampai jemur, hingga akhirnya menghasilkan kopi berkualitas.

“Memang proses pengolahan kopi itu mulai dari ceri hingga rose bean ada sop (Standar Operasional Prosedur (SOP) yang jelas,” ujarnya.

Pengolahan kopi yang baik  dimulai dari  saat  <a target='_BLANK' href='//sariagri.id/article/topic/37356/Panen'>panen</a>   (piqsels.com)
Pengolahan kopi yang baik dimulai dari saat panen (piqsels.com)

Pertama, perlakukan biji kopi sebaik mungkin setelah petik hingga pengupasan tidak melebihi waktu hingga 8 jam. “Kalau waktunya lebih kualitas kopi turun karena terjadi fermentasi,” ujarnya.

Kedua, lakukan perambangan yang baik untuk memisahkan sekaligus mengetahui mana biji kopi yang isi dan tidak. “Dari sana kita sudah bisa menentukan sikap jenis olahan, apakah wet hole (proses basah), atau dry hole (proses kering),” kata dia.

Biji kopi setelah diroasting , sebelumnya harus dijemur dengan waktu tertentu (piqsels)
Biji kopi setelah diroasting , sebelumnya harus dijemur dengan waktu tertentu (piqsels)

Dari kedua proses itu, perbedaan utama terletak pada proses penjemuran. Penjemuran Wat oke hanya berlangsung 3-4 jam dengan kandungan air 36 persen, sementara dry hole menghabiskan penjemuran hingga 7 hari dengan kadar air hanya sebesar 12 persen.

Baca Juga: Mengangkat Kembali Kopi Preanger ke Dunia dengan Pengolahan Tepat
Tren Gaya Hidup Sehat, 3 Cara Budi daya Kopi Organik

“Sebelum penjemuran keduanya melalui proses perambangan dengan waktu 15 jam ke atas, untuk menghindari getah atau lendir buah,” kata dia.

Sementara untuk proses natural, setelah perambangan langsung jemur sampai kadar air 12-13 persen, “Rata-rata pelaksanaanya hingga tiga Minggu,” kata dia.

Video Terkait