Kisah Pelaku Usaha yang Sukses Kirim Kopi Arabika Lereng Gunung Ijen ke Pasar Dunia

Proses sortasi buah kopi arabika.(Dok.Pribadi)

Penulis: Arif Sodhiq, Editor: Reza P - Rabu, 8 September 2021 | 13:30 WIB

Sariagri - Indonesia dikenal sebagai salah satu negara penghasil kopi terbesar di dunia. Daerah lereng Gunung Ijen menjadi salah satu penghasil kopi arabika terbesar di Pulau Jawa.

Dandy Dharmawan (28) pemuda asal Banyuwangi, Jawa Timur merupakan salah satu pelaku usaha yang sukses merintis dan mengembangkan usaha pengolahan biji kopi arabika lereng Gunung Ijen.

Menurut Dandy, saat masih kuliah dirinya pernah mencoba berjualan kopi luwak jenis robusta yang sudah berbentuk bubuk. Namun, lanjut dia, minat pasar lebih besar pada produk biji kopi arabika.

“Awalnya tahun 2015 saya coba usaha kopi luwak robusta yang sudah di-grind (bubuk) tetapi ternyata tidak laku. Kemudian selang beberapa waktu, saya mulai posting di Instagram produk biji kopi robusta, ternyata respon calon konsumen lebih banyak yang cari biji kopi arabika. Saya di situ berpikir untuk cari sumber kopi arabika, ketemu di lereng Gunung Ijen,” ujar Dandy kepada Sariagri.id, Rabu( 8/9/2021).

Pada tahun 2016, Dandy mulai fokus mengembangkan usaha pengolahan biji kopi arabika dari lereng Gunung Ijen. Seiring permintaan pasar terhadap biji kopi (green bean) jenis arabika yang cukup tinggi, Dandy mulai mengembangkan berbagai teknik pengolahan biji kopi.

“Sebelumnya saya beli dari petani-petani kopi di lereng Gunung Ijen dalam bentuk (green bean). Tapi karena teknik penjemuran tiap petani berbeda menyebabkan kualitas dan rasa kopi berbeda. Setelah itu, saya mulai membeli buah kopinya langsung dari kebun petani,” jelasnya.

Buah kopi arabika yang telah dijemur.(Dok.Pribadi)
Buah kopi arabika yang telah dijemur.(Dok.Pribadi)

Peluang usaha biji kopi arabika

Melalui Instagram Dandy mempromosikan produk biji kopi arabika dan mendapat banyak permintaan. Dia mengatakan, selama tiga tahun terakhir telah memproduksi sekitar 15 ton biji kopi arabika (green bean).

Menurut Dandy, banyak permintaan datang dari kota besar di dalam negeri. Se;ain itu dia juga beberapa kali melayani pesanan dari mancanegara seperti Malaysia, Jerman, Jepang, Arab Saudi dan Qatar.

“Sebelum menjual ke luar negeri, saya kirim sampel biji kopi untuk diikuti dalam Coffee Cupping di sana biar mereka tahu spesifikasi dan kualitas produk. Kemudian biasanya baru ada pemesanan. Untuk ekspor selama ini saya tidak mengalami kesulitan,” jelasnya.

Dandy menjual biji kopi arabika dengan harga Rp90 – Rp165 ribu per kilogram. Dia mengaku permintaan biji kopi arabika sangat tinggi dan setiap tahun produknya selalu habis terjual. Omzet per tahun dari usaha biji kopi arabika, kata dia, sekitar Rp1,8 miliar.

Variasi pengolahan biji kopi arabika

Setiap teknik pasca panen dan proses pengolahan buah kopi menjadi biji kopi (green bean) mempunyai hasil rasa kopi yang khas. Dandy mulai belajar mengembangkan teknik pengolahan biji kopi untuk mengantisipasi keluhan terkait kualitas rasa dan memenuhi preferensi rasa kopi dari konsumen. Variasi teknik meliputi proses penjemuran, fermentasi, perendaman, pencucian dan lainnya.

“Beda lokasi kebun juga bisa menghasilkan karakter kopi yang berbeda," jelas Dandy.

Hingga saat ini Dandy sudah memproduksi 9 variasi produk biji kopi arabika yang berbeda berdasarkan teknik dan proses pengolahannya. Variasi produk itu, Ijen Anaerob Fermentation Natural, Ijen Natural Hydro Honey, Ijen CM Natural, Ijen Lactic Natural, Ijen Fullwash, Ijen Red Honey, Ijen Natural, Ijen Kenyan Process dan Ijen Karamela.

Penjemuran biji kopi arabika. (Dok.Pribadi)
Penjemuran biji kopi arabika. (Dok.Pribadi)

Kendala dan tantangan usaha biji kopi arabika

Dandy mengatakan, permintaan biji kopi arabika yang tinggi masih terkendala dengan musim panen kopi yang singkat setiap tahunnya.

“Panen kopi arabika hanya berlangsung selama tiga bulan dalam setahun yaitu sekitar bulan Juni, Juli dan Agustus. Jadi untuk bisa penjualan selama setahun itu, modal harus terkumpul selama produksi tiga bulan itu,” jelasnya.

Pandemi COVID-19, lanjut Dandy, tidak menurunkan jumlah permintaan tetapi mempengaruhi waktu penjualan produk biji kopi arabika.

“Jadi kalau dari permintaan tidak menurun saat pandemi karena produksi cenderung sama setiap tahunnya sekitar 15 ton, tapi jangka waktu produk habis terjual itu lebih lama. Kalau lihat dari data tahun 2019, produksi selama tiga bulan itu, di bulan Oktober di tahun yang sama produk sudah habis terjual. Tetapi saat pandemi, produk habis terjual baru di bulan Maret tahun depannya,” paparnya.

Rencana kedepan

Saat ini, Dandy telah memiliki 24 karyawan yang bekerja di usaha pengolahan biji kopi arabika miliknya. Dia sangat menyukai usaha yang digelutinya karena sektor pertanian sudah menjadi pilihan tepat jalan hidupnya.

“Ke depannya ya saya ingin terus bergelut di kopi ini karena punya potensi yang cukup besar, selain itu, saya lebih suka hidup di desa dan menjalankan usaha karena lebih tenang dibandingkan harus hidup di kota yang ramai dan macet,” katanya.

Dalam jangka menengah, Dandy ingin meningkatkan jumlah produksi biji kopi arabika karena pasar yang tersedia masih sangat luas.

“Sebelumnya memang rencana mau ningkatin produksi, tapi karena pandemi jadi saya buat stagnan. Karena permintaan masih tinggi di green bean kopi arabika, saya mau fokus meningkatkan produksi dulu,” katanya.

Baca Juga: Kisah Pelaku Usaha yang Sukses Kirim Kopi Arabika Lereng Gunung Ijen ke Pasar Dunia
Melalui Pola Tanam Agroforestri, Ini Kisah Petani Kopi Sarongge di Kaki Gunung Gede

Dia menambahkan, potensi pertanian terutama komoditas perkebunan sangat besar. Upaya pengolahan dan pasca panen yang tepat dibutuhkan untuk meningkatkan nilai tambah produk perkebunan termasuk kopi.

“Indonesia itu sangat kaya akan komoditas perkebunan seperti kopi, kakao, lada dan lainnya. Maka usaha tambahan diperlukan untuk meningkatkan nilai dari komoditas perkebunan Indonesia di pasar dunia,” tandasnya.

Video terkait:

Video Terkait