Jadi Komoditas Strategis, Ini Permasalahan Karet Alam Indonesia

Ilustrasi - Pohon karet.(Pixabay)

Editor: Arif Sodhiq - Selasa, 28 September 2021 | 17:00 WIB

Sariagri - Indonesia menjadi negara produsen karet alam terbesar ke-2 di dunia. Karet Indonesia menguasai sekitar 22,3 persen produksi dan 21,7 persen dari total ekspor karet alam dunia.

Direktur Perundingan APEC dan Organisasi Internasional, Kementerian Perdagangan, Farid Amir mengatakan karet alam menjadi salah satu komoditas perkebunan strategis Indonesia dan menjadi bahan baku strategis esensial bagi beragam sektor industri.

“Karet alam juga menjadi bahan baku strategis yang esensial bagi berbagai sektor industri seperti otomotif, konstruksi, manufaktur, kesehatan dan lainnya,” ujar Farid Amir dalam “Sustainability Karet Alam Indonesi” secara virtual, Selasa (28/9/2021).

Pada tahun 2020, luas perkebunan karet alam di Indonesia 3,7 juta hektare di mana 85 persennya merupakan milik petani rakyat.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) total produksi karet alam tahun 2020 mencapai 3,5 juta ton dan menjadi pendapatan bagi sekitar 2,4 juta petani karet alam.

Ekspor karet alam tahun 2020 mencapai 2,4 juta ton atau senilai 3,2 juta dolar AS dengan tujuan pasar ekspor utama, Amerika Serikat, Cina, Jepang, India dan Korea Selatan.

Farid Amir menyebutkan meski menjadi komoditas strategis dan bahan baku esensial industri, karet alam Indonesia masih menghadapi berbagai permasalahan, salah satunya harga yang fluktuatif dan cenderung rendah bahkan hingga di bawah biaya produksi.

Selain itu, ketidakpastian dan cuaca ekstrem juga memberikan dampak negatif bagi tanaman karet dan menyebabkan penyakit gugur pada perkebunan karet alam.

“Seluruh faktor tersebut kemudian yang berkontribusi pada penurunan produksi dan menyebabkan pasokan karet alam Indonesia tidak cukup untuk memenuhi lonjakan permintaan,” ungkapnya.

Farid Amir mengungkapkan, tantangan karet alam Indonesia saat ini adanya tuntutan dari pasar global terhadap keberlanjutan produk itu. Isu keberlanjutan karet alam pertama kali diinisiasi industri ban dunia.

“Isu keberlanjutan menjadi perbincangan hangat di berbagai sektor termasuk karet alam, hal itu dinilai sejalan dengan wacana untuk pencapaian SDGs 2030,” jelasnya.

Padahal, lanjut dia, komposisi karet alam pada total bahan baku ban hanya menyumbang berkisar 19 – 34 persen komponen.

Adapun beberapa program karet alam berkelanjutan yang sudah berlangsung di tingkat global yaitu Sustainable Natural Rubber Initiatives (SNR-i), Global Platform on Sustainable Natural Rubber (GPSNR), dan Pilot Projects World Wildlife Fund (WWF).

Namun, diamengatakan sebagian besar konsep karet alam berkelanjutan yang ada saat ini hanya fokus pada prinsip keberlanjutan lingkungan dan sosial. Prinsip keberlanjutan ekonomi belum sepenuhnya diperhatikan.

“Hal ini menunjukkan upaya perlindungan harga yang kompetitif bagi petani belum menjadi agenda utama berbagai pembahasan karet alam berkelanjutan di tingkat global,” kata Farid Amir.

Baca Juga: Jadi Komoditas Strategis, Ini Permasalahan Karet Alam Indonesia
Harga Karet Terus Naik, Gubernur Sumsel Minta Kemendag Buka Keran Ekspor

Karena itu, dia menekankan tantangan karet alam berkelanjutan di tingkat global memberikan pekerjaan rumah bagi sektor karet alam Indonesia. Tantangan itu terutama untuk membangun narasi karet alam berkelanjutan dan membangun sinergi berbagai stakeholder.

“Sekarang pekerjaan rumah kita untuk membangun narasi karet alam berkelanjutan yang dapat mendorong sinergi seluruh pihak di sektor karet mulai dari petani, industri dan pemerintah. Dengan demikian diharapkan dapat menjadi katalis dalam mewujudkan sektor karet alam berkelanjutan dari perspektif ekonomi, lingkungan dan sosial untuk menciptakan kesejahteraan petani karet,” pungkasnya.

Video terkait:

 

Video Terkait