Demi Dukung Keanekaragaman Hayati Pengelolaan Kebun Teh Bisa Diubah

Ilustrasi - Perkebunan teh (Pixabay)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Jumat, 31 Desember 2021 | 20:20 WIB

Sariagri - Selama ini kita mungkin hanya mengenal budidaya tanaman teh secara monokultur sehingga mengancam keanekaragaman hayati, tetapi penelitian baru mengungkapkan bahwa perkebunan teh sebenarnya dapat mendukung keanekaragaman hayati dari tanaman asli, satwa liar, dan mikroorganisme jika dikelola dalam lingkungan agro-ekologis dengan praktik yang berkelanjutan.

Para ilmuwan di Ashoka Trust for Research in Ecology and the Environment (ATREE), telah menjelajahi 78 penelitian dan 47 literatur, dan menemukan bahwa teh ditanam dalam 26 cara berbeda di 25 negara, dari hutan teh kuno hingga monokultur teh.

Mereka menyimpulkan, agroekosistem teh dapat diselaraskan dengan konservasi di luar kawasan lindung melalui praktik tradisional, atau menggabungkan pertanian organik, pohon pelindung asli, dan mempertahankan keanekaragaman habitat dalam monokultur. Penelitian tersebut mengatakan, praktik agroekologi yang baik dan berkelanjutan dapat "mendorong" pengelolaan keanekaragaman hayati.

"Perkebunan monokultur yang luas memiliki dampak negatif pada keanekaragaman hayati, karena kurangnya tutupan kanopi yang mengurangi heterogenitas, dengan menghilangkan pohon pelindung asli dan konversi hutan sisa, serta penggunaan pestisida dan pupuk kimia berbahaya," ujar peneliti Annesha Chowdhury kepada Mongabay-India.

Ia mengungkapkan, keanekaragaman hayati akan tercipta jika budidaya teh dikelola secara organik dengan pohon pelindung asli dan mempertahankan sub-habitat. Ini memungkinkan terjadinya kombinasi berbagai tutupan lahan seperti hutan sisa, pertanian agroforestri, dan koridor riparian dalam teh.

Menurut Chowdhury, perkebunan teh monokultur yang ada saat ini dapat diubah menjadi kombinasi lanskap yang mendukung keanekaragaman hayati, dan bisa menjadi mata pencaharian orang-orang yang bergantung padanya.

"Teh sendiri tidak membantu pertumbuhan keanekaragaman hayati; Namun ada bukti di seluruh dunia bahwa ketika kebun teh dikelola menjadi bagian dari lanskap yang lebih besar dan melestarikan keanekaragaman hayati, itu menjadi ruang pelengkap untuk konservasi keanekaragaman hayati, di samping kawasan lindung yang ada,” kata Chowdhury.

Ia memberi contoh Perkebunan Teh Nuxalbari dan teh bersertifikat ramah gajah Tenzing Bodosa di Assam, India adalah cerita tentang bagaimana manajemen agroekosistem teh disesuaikan untuk memberi ruang bagi rute migrasi gajah.

Demikian pula, pertanian agroforestri teh kuno dan hutan teh di Cina, yang terbukti mendukung keanekaragaman hayati yang lebih besar daripada perkebunan monokultur teh yang dikelola secara intensif. Di hutan Analog Sri Lanka, sistem wanatani multi-tingkat meniru hutan alam dan mendukung kehidupan sejumlah spesies mamalia endemik.

Di Ghats Barat, koridor riparian dan petak hutan sisa dalam sistem agroforestri teh, mendukung kumpulan kelelawar yang sensitif terhadap intervensi pengelolaan intensif. Di Jepang, ada bukti dari sistem terpadu padang rumput teh tradisional yang mendukung lebih dari 300 spesies rumput, ini semua menunjukkan bagaimana potensi lanskap produksi teh yang beraneka ragam.Baca Juga: Demi Dukung Keanekaragaman Hayati Pengelolaan Kebun Teh Bisa Diubah
Teh Hijau Lebih Baik dari Sisi Harga, Ini Penyebabnya



"Di Thailand, hutan teh liar mendukung spesies endemik tua seperti Schima wallichii, Castanopsis tribuloides dan magnolia serta berbagai varietas teh, meniru kondisi seperti hutan," ujar Chowdhury.

Ia menekankan perlunya sertifikasi pihak ketiga sebagai cara agar perkebunan monokultur dan produsen teh dapat bergerak menuju praktik ramah keanekaragaman hayati, karena konsumen saat ini menginginkan produk yang berkualitas tapi juga etis.

 

Video Terkait