Harga Sawit Naik, Petani Sumsel Tunda Peremajaan Lahan

Sejumlah pekerja kebun kelapa sawit di kawasan Kalidoni Palembang, Sumsel.(Antara Foto/Feny Selly/ama/17)

Editor: Arif Sodhiq - Senin, 24 Januari 2022 | 16:55 WIB

Sariagri - Petani sawit di Sumatera Selatan (Sulsel) rata-rata menunda peremajaan lahan sawitnya karena tergiur dengan kenaikan harga komoditas itu sejak 2021.

Fungsional Analis Prasarana dan Sarana Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan Rudi Arpian mengatakan karena itu pula Pemprov Sumsel sulit mencapai target maksimal untuk program Peremajaan Sawit Rakyat yang dicanangkan Presiden Joko Widodo pada 2017. Dari total kuota 13.000 hektare, hanya mampu diserap petani sekitar 50 persen.

Faktor nonteknis, di mana saat ini petani sedang menikmati tingginya harga sawit menjadi alasan kuat untuk menunda peremajaan lahan. Meski usia tanaman sudah tua atau di atas 25 tahun tetapi sejatinya masih menghasilkan meski produktivitas tidak sebaik tanaman berusia 5-10 tahun.

Harga sawit di tingkat petani kini di kisaran Rp3.000 per kilogram. Sementara sebelum terjadi ‘bombing komoditas’ sejak 2021 hanya di kisaran Rp1.500 per kilogram. Bahkan saat anjlok pada tahun 2018, sempat di kisaran Rp500 per kilogram.

Petani khawatir akan kehilangan momen, apalagi jika lahan diremajakan secara otomatis tidak akan mendapatkan pemasukan dari areal sawitnya. Setidaknya butuh tiga tahun, lahan sawit yang diremajakan baru bisa dipanen kembali.

Namun, ada sebagian petani di Sumsel yang beruntung karena telah mengikuti program Peremajaan Sawit Rakyat tahap pertama seperti di Kabupaten Musi Banyuasin yang mulai menanam pada 2017.

Petani di kabupaten itu sudah memanen lahannya sejak pertengahan tahun 2020 sehingga turut merasakan keuntungan berlipat atas kenaikan harga sawit yang sedang terjadi saat ini.

Di Muba, program PSR yang menyasar lahan seluas 4.446 hektare di Kecamatan Sungai Lilin terbilang sukses.

Aditya Wibihafsoro (33), petani sawit di Desa Sidomulyo Kecamatan Gunung Megang, Kabupaten Muaraenim, Sumatera Selatan mengatakan dirinya senang karena tidak lama lagi lahan sawit seluas satu hektare dapat dipanen.

Baca Juga: Harga Sawit Naik, Petani Sumsel Tunda Peremajaan Lahan
Kendalikan Harga Minyak Goreng, Pemprov Jatim Gelontorkan 2.000 Liter di Dua Wilayah

Dia yang mengikuti program PSR bersama puluhan petani sawit di desanya pada 2019 diperkirakan akan memanen Tandan Buah Segar kelapa sawit pada pertengahan 2022.

“Sekitar Juli sudah bisa panen, bibit yang baru ini dua tahun sudah bisa panen tidak mesti tunggu tiga tahun,” pungkasnya.

Video:

Video Terkait