Ramah Lingkungan, Mahasiswa UNY Kembangkan Masker Nano Berbahan Limbah Ampas Tebu

Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) mengembangkan masker nano fiber ramah lingkungan.(Sariagri/Sugih Arto)

Editor: Arif Sodhiq - Kamis, 27 Januari 2022 | 18:30 WIB

Sariagri - Sekelompok mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) mengembangkan masker nano fiber ramah lingkungan. Uniknya bahannya memanfaatkan limbah ampas tebu dengan metode enzimatik.

Mereka adalah Siti Mustika Ayu, Inten Widyaningrum dan Dayu Arinda Prodi Kimia serta Intan Tri Wahyuni dan Keysa Havida Nugraha Prodi Pendidikan Biologi.

Menurut Siti Mustika Ayu penggunaan limbah ampas tebu karena jika tidak diolah dengan benar dapat menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan.

“Setiap 1 ton tanaman tebu, akan menghasilkan 100 kg ampas tebu kering yang mengandung kadar selulosa 40%,” ujarnya.

Kandungan selulosa dalam ampas tebu dapat dimanfaatkan untuk pembuatan nanofiber yang memiliki ukuran permukaan dengan dimensi 1-100 nm dapat dijadikan alternatif penyaring debu vulkanik. 

Inten Widyaningrum menambahkan nanofiber dapat dibuat dari selulosa berasal dari dinding sel tumbuhan yang diekstraksi menghasilkan serat berukuran nano.

“Dalam mengubah selulosa menjadi nanoselulosa dapat menggunakan perlakuan awal dengan alkali, kemudian diikuti dengan hidrolisis enzimatik untuk menghilangkan lignin dan membatasi degradasi karbohidrat dibandingkan dengan metode kimia lainnya,” ungkap Inten.

Keysa Havida Nugraha menjelaskan uji coba pembuatan masker dilakukan di Laboratorium Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA UNY untuk prosedur perlakuan awal dan metode enzimatik. Sementara riset secara mandiri dilakukan di Bantul untuk karakterisasi biodegradasi nanofiber.

Bahan yang digunakan adalah ampas tebu, KOH, air deionisasi, buffer asetat, xilanase, tissue, koran bekas, alkohol 70%, etanol, tanah dan kain kasa.

Sedangkan slat yang dipakai adalah SEM (Scanning Electron Microscopy), FTIR (Fourier Transformed Infrared Spectroscopy), sentrifugasi, blender, ayakan 150 mesh, hot plate dan magnetic stirrer, penangas, termometer, stopwatch, neraca analitik, keranjang, beaker glass, labu takar, set peralatan refluks, botol flakon, erlenmeyer, loyang, gelas arloji, tabung reaksi, gelas ukur, pipet tetes, pengaduk, dan spatula.

Riset ini masih akan terus dilanjutkan hingga mencapai prototype produk yang sempurna. Keysa mengatakan pada riset lanjutan akan dilakukan realisasi pengimplementasian nanofiber selulosa ampas tebu sebagai produk masker agar mendapatkan hasil yang maksimal.

“Diperlukan penelitian lanjutan berupa uji aktivitas antimikroba pada produk nanofiber selulosa ampas tebu agar didapatkan produk masker yang baik," pungkasnya.

Baca Juga: Ramah Lingkungan, Mahasiswa UNY Kembangkan Masker Nano Berbahan Limbah Ampas Tebu
Tak Terima Ditegur untuk Kenakan Masker, Pelanggan Ini Tinju Manajer Pizza

Aktivitas gunung api di Indonesia seperti erupsi seringkali disertai dengan munculnya abu vulkanik yang menyebabkan penurunan kualitas udara. Penurunan kualitas udara ini disebabkan kandungan ga  kimia seperti CO, NO2, dan SO2. Jika terlalu lama terpapar abu vulkanik salah satu akibatnya adalah infeksi saluran pernafasan akut (ISPA).

Umumnya untuk mengurangi paparan abu vulkanik, masyarakat di sekitar gunung api menggunakan masker, salah satunya N95. Masker ini dinilai masih belum efektif dalam menyaring debu vulkanik karena hanya mampu menyaring debu berukuran 300 nm. Karena itu diperlukan pengembangan masker dengan ukuran pori kurang dari 300 nm agar lebih efektif dalam menyaring debu vulkanik.

Video terkait:

Video Terkait