Perhutani Jajaki Pembudidayaan Bisnis dan Sistem Kopi di Indonesia

Petani memanen biji kopi arabika di Gunung Labu, Kayu Aro Barat, Kerinci, Jambi, Sabtu (30/5/2020). (ANTARA FOTO)

Editor: M Kautsar - Selasa, 1 Februari 2022 | 18:20 WIB

Sariagri - Perum Perhutani dukung bisnis dan penguatan sistem budidaya kopi di Indonesia melalui Project Management Office (PMO) Kopi Nusantara.

Direktur Utama Perum Perhutani Wahyu Kuncoro mengatakan Perhutani sangat terbuka untuk bermitra dengan pihak manapun sesuai dengan Visi Perhutani yaitu Menjadi Perusahaan Pengelola Hutan Berkelanjutan dan Bermanfaat bagi Masyarakat dan Lingkungan.

“Kami sangat mendukung upaya pemerintah dalam mengembangkan bisnis dan ekosistem kopi nasional demi kesejahteraan petani kopi, melalui program PMO Kopi Nusantara agar kopi Indonesia semakin mendunia," kata Wahyu, Selasa (2/1).

Kopi Indonesia bisa menjadi salah satu produk andalan ekspor Indonesia. Yang menarik ekosistem kopi di dalam negeri juga berkembang dengan pesat dengan menjamurnya cafe cafe Kopi di seluruh Indonesia. Selain munculnya, pengusaha milenial di komoditas Kopi.

Wahyu menjelaskan kawasan hutan Perum Perhutani yang dijadikan sebagai Pilot Project program PMO Kopi Nusantara oleh Kementerian BUMN melalui ID Food berada di wilayah Garut dan Bandung Selatan (Ciwidey).

Perum Perhutani mendukung upaya pengembangan bisnis komoditas kopi di Indonesia melalui PMO Kopi Nusantara yang merupakan program inisiatif Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk memperkuat ekosistem kopi di Indonesia dan mengoptimalkan potensi kopi sebagai komoditas nasional.

Sebelumnya Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir menyatakan siap bekerja sama dengan berbagai pihak dalam membangun ekosistem untuk kopi.

Baca Juga: Perhutani Jajaki Pembudidayaan Bisnis dan Sistem Kopi di Indonesia
Punya Potensi, Kopi Asal Lombok Banyak Dicari Wisatawan



Erick Thohir mengatakan kesiapan BUMN ini karena 96 persen dari produksi kopi terkait dengan petani. Berbeda dengan kelapa sawit di mana sawit itu sudah 60 persen swasta dan 40 persen petani.

Menurut dia, dalam membangun ekosistem tidak mungkin terjadi jika masing-masing pihak egosektoral, karena ekosistem itu bisa terjadi kalau ditempatkan di tengah semua kepentingannya.

Video terkini:

Video Terkait