Dulu Berburu Burung, Kini Warga Desa di Cina Ini Sejahtera dari Kebun Teh

Ilustrasi - Perkebunan teh. (Pixabay/DukeAsh)

Editor: Arif Sodhiq - Kamis, 5 Mei 2022 | 10:30 WIB

Sariagri - Transportasi yang buruk dan sedikitnya lahan sangat menghambat pembangunan pertanian di Desa Maona, Kota Wuzhishan, Provinsi Hainan, Cina selatan. Sejak 2013, pemerintah setempat membimbing penduduk desa secara bertahap untuk menanam teh. Kini upaya itu telah mengubah tingkat kesejahteraan warga desa.

“Penduduk desa dulu mencari nafkah dengan berburu burung dan mengeksploitasi daerah pegunungan," ujar Wang Youshou, yang mengelola Desa Maona, seperti dikutip Xinhua.

Wang adalah penduduk Maona, sebuah desa etnis Li yang berada di tengah lembah gunung dan sungai. Saat fajar menyingsing, dia bergegas menuju ke kebun tehnya yang terletak di pegunungan hijau yang rimbun. Daun teh di sana menjamin penghasilan yang lumayan untuk keluarganya.

Wang mulai menanam teh di atas lahan seluas 3,33 hektare pada 2013, sebelum dirinya membuka bengkel pengolahan teh. Harga teh buatannya bisa mencapai 800 yuan (sekitar Rp1,7 juta) per kilo.

Wuzhishan memiliki perbedaan suhu siang dan malam yang tinggi, serta selalu diselimuti kabut. Kondisi itu menjadikannya tempat sempurna untuk perkebunan teh.

Penduduk setempat biasa memetik daun teh liar untuk keluarga mereka atau menjualnya di pasar dalam skala kecil. Tanpa perkebunan skala besar, penduduk desa tidak bisa mendapatkan keuntungan dari industri teh.

Pada tahun 2013, di bawah bimbingan pemerintah setempat, penduduk desa memulai babak baru kehidupan di kebun teh.

Pemerintah berinvestasi dalam infrastruktur lokal seperti jalan dan fasilitas irigasi, kata Wang Youshou, sambil menambahkan bahwa pemerintah juga menyediakan bibit tanaman teh dan pupuk.

Sejak saat itu, areal perkebunan teh lokal berkembang secara signifikan. Beberapa pabrik pengolahan teh juga bermunculan.

Desa Maona mulai menarik wisatawan luar, dengan pemandangan hutan hujan dan budaya etnis Li. Para turis minum teh dan membeli teh serta produk pertanian lainnya. Pendapatan penduduk setempat pun meningkat.

Saat ini, pendapatan tahunan per kapita kami mencapai lebih dari 15.000 yuan (sekitar Rp32,7 juta), kata seorang pejabat desa.

Baca Juga: Dulu Berburu Burung, Kini Warga Desa di Cina Ini Sejahtera dari Kebun Teh
Ternyata Ini Rahasia Teh Jepang Populer di Dunia

Saat vitalisasi pedesaan meningkat, rumah-rumah tua bobrok di Maona digantikan rumah-rumah baru yang lebih luas. Semua akses jalan di dalam dan menuju desa telah disemen. Sebuah jembatan lebar telah menggantikan jembatan tua yang kecil dan sering terendam air.

Pemerintah setempat juga telah membangun aula dan alun-alun, mengubah Maona menjadi tempat wisata yang menggabungkan berbagai kegiatan rekreasi seperti berkemah, melihat bintang, dan minum teh.

 

Video Terkait