Bunga Wijaya Kusuma, Syarat Seorang Raja Dapat Tahta

Ilustrasi Bunga Wijaya Kusuma (Istimewa)

Penulis: Triana, Editor: Tatang Adhiwidharta - Rabu, 18 Mei 2022 | 20:20 WIB

Indonesia terkenal kaya akan budaya dan tradisinya. Tak heran jika kita menemukan banyak sekali tradisi di suatu wilayah yang terbilang cukup unik. Bahkan kita sendiri hampir tidak pernah mendengarnya.

Salah satu tradisi unik tersebut adalah memetik bunga wijaya kusuma. Bunga wijaya kusuma merupakan salah satu bunga ‘istimewa’ di tanah Jawa. Bunga ini sebenarnya bisa dengan mudah tumbuh di mana saja.

Sayangnya, meski bisa tumbuh dalam kondisi tanah apapun, belum tentu bunga ini dapat selalu berbunga. Uniknya, bunga wijaya kusuma akan mekar pada tengah malam dan hanya satu tahun sekali. Setelah itu, ia akan menguncup lagi pada saat matahari terbit.

Selain keunikannya, ada cerita menarik datang dari bunga ini, menurut buku Belajar Spiritual bersama The Thinking General, bunga wijaya kusuma dianggap memiliki berkah oleh orang Jawa. Dalam pewayangan bunga ini disebut sebagai pusaka milik Bathara Kresna, titisan dewa Wisnu sang pemelihara alam semesta.

Sebelum mangkat ke Swargolaka di Nirwana, bunga ini dihanyutkan ke Laut Kidul oleh Kresna. Kabarnya, bunga ini berlabuh dan kemudian tumbuh menjadi pohon di atas pulau batu karang yang letaknya di ujung timur Pulau Nusakambangan. Kisah ini semakin memperkuat keistimewaan bunga wijaya kusuma bagi masyarakat Jawa.

Dalam budaya keraton Yogyakarta dan Surakarta, calon raja yang baru diharuskan memetik bunga wijaya kusuma yang mekar sebelum naik tahta. Raja yang berhasil mendapatkannya diyakini akan membawa kejayaan bagi kerajaan yang dipimpin kelak.

Cara memetik bunganya pun tidak bisa sembarangan. Bagi para calon raja yang ingin memetiknya harus menjalani prosesi semedi terlebih dahulu.

Selain itu, sebelum pelaksanaannya para utusan raja akan melakukan upacara ‘melabuh’ atau sedekah laut di tengah laut dekat pulau Karang Bandung (Majethi).

Baca Juga: Bunga Wijaya Kusuma, Syarat Seorang Raja Dapat Tahta
Bukan Sekadar Hiasan, 5 Tanaman Ini Bisa Menetralisir Racun

Pada tahun 1939, proses memetik bunga wijaya kusuma ini pernah ditulis Koran Belanda. Di koran tersebut, diceritakan kedatangan utusan Keraton Surakarta dari Sunan Pakubuwono XI di Cilacap, Pantai Selatan Jawa.

Bunga wijaya kusuma dengan sendirinya jatuh ke wadah bokor saat para utusan melakukan semedi. Mereka pun dengan sigap segera menutupnya dengan kain kerajaan dan membawanya pulang ke Kartasura untuk disimpan di dalam kamar pusaka keraton.

Video Terkait