Imbas Larangan Ekspor CPO, Petani Sawit Jambi Keluhkan TBS Tidak Laku

Petani sawit menuntut pencabutan peraturan larangan ekspor minyak sawit di Jakarta, Selasa (17/5/2022). (Sariagri/Dwi Rachmawati)

Editor: M Kautsar - Selasa, 17 Mei 2022 | 16:55 WIB

Ratusan petani dari 22 provinsi dan 146 kabupaten/kota yang tergabung dalam Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) melakukan aksi unjuk rasa di depan kantor Kementerian Koordinator bidang Perekonomian.

Para petani menuntut pemerintah agar segera mencabut aturan larangan ekspor minyak sawit yang telah berlangsung sejak 28 April 2022 lalu.

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Apkasindo Provinsi Jambi, Wandiwandi mengatakan kebijakan larangan ekspor minyak sawit telah menyengsarakan petani sebab saat ini tandan buah segar (TBS) petani tidak laku terjual. Wandi mengungkapkan bahwa di provinsi Jambi hanya 10 persen TBS petani yang dibeli oleh perusahaan sawit dengan harga yang rendah.

"Petani menuntut Presiden untuk segera mencabut larangan ekspor, kenyataannya petani saat ini tidak bisa menjual TBS, tidak laku," kata Wandi kepada Sariagri saat ditemui di Jakarta pada Selasa (17/5/2022).

Wandi menyebutkan, saat ini di Jambi harga TBS menyentuh Rp1.200 per kilogram belum termasuk potongan biaya angkut ke pabrik minyak goreng sawit.

"Harga CPO dunia saat ini Rp22.000 per kilogram, jika dikonversi ke TBS seperti di Malaysia maka harganya saat ini Rp5.600 - Rp5.700 per kilogram TBS. Tetapi di Indonesia TBS tidak laku, jika laku harganya pun cuma Rp1.200 per kilogram. Itu di perkebunan kelapa sawit, biaya transportasi ke pabrik minyak goreng maka dikurangi lagi Rp500," jelas Wandi.

Wandi menilai larangan ekspor CPO tidak efektif sama sekali dalam mengatasi kelangkaan dan menstabilkan harga minyak goreng.

"Semenjak ada larangan ekspor, minyak goreng di daerah pun tidak tersedia dengan harga yang ditetapkan pemerintah. Ada apa sebenarnya? Kami di kampung tidak melihat minyak curah dengan harga Rp14.000 per liter, yang ada kami lihat minyak kemasan sederhana merek ecek-ecek harganya Rp24.000 per liter saat ini," paparnya.

Wandi pun menyampaikan bahwa para petani sawit Apkasindo yang mengikuti aksi hari ini telah sepakat tidak akan berhenti dan pulang sampai tuntutan mereka didengar dan dipenuhi presiden.

"Dari Aceh sampai Papua Barat kami setuju tidak pulang sebelum tuntutan dikabulkan. Sebelum larangan ekspor ini dicabut, kami para petani tidak akan pulang," pungkasnya.

Video Terkait