Larangan Ekspor Dicabut, Apkasindo: Terima Kasih, Hormat Kami Petani Sawit

Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO), Gulat Manurung. (Foto: Sariagri)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Kamis, 19 Mei 2022 | 19:10 WIB

Sariagri - Ketua Umum DPP Apkasindo Gulat ME Manurung, berterima kasih atas keputusan yang dikeluarkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan mencabut larangan ekspor minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan produk turunannya.

Sebelumnya, pemerintah melarang ekspor minyak goreng dan CPO pada 28 April 2022 lalu. Masalahnya, persediaan minyak goreng di dalam negeri langka, hingga mengakibatkan kelangkaan.

Terbaru, Presiden Jokowi mencabut larangan ekspor minyak goreng dan CPO pada Kamis 19 Mei 2022. Karena melihat pasokan minyak goreng terus bertambah.

Gulat melihat hal ini sebagai 'jalan baru' bagi petani dan juga pengusaha minyak goreng. Meski dalam 28 hari ke belakang mereka bertahan dan juga berjuang.

"Meskipun Sulit dan Berat menjalani 28 hari masa-masa sulit sejak Bapak melarang ekspor, berakibat anjloknya harga TBS, kami Petani sampai 70%, tapi kami Petani Sawit berhasil melaluinya dan menunjukkan komitmen bernegara, tidak melakukan hal-hal anarkis," ujar Gulat dalam rilisnya kepada Sariagri, Kamis (19/5/2022).

"Sawit adalah sumber nafkah kami sekaligus harapan dan masa depan ekonomi Indonesia, sawit juga telah menjadikan Indonesia disegani dunia. Kami sepakat MGS (minyak goreng sawit) harus tersedia dan terjangkau di masyarakat (domestik), dan kami Petani Sawit sangat terhormat diberi kesempatan untuk mewujudkan harapan Presiden tersebut," tambah Gulat.

Gulat menambahkan, larangan ekspor yang dilakukan pemerintah beberapa waktu lalu bisa dijadikan pelajaran. Diharapkan tata kelola sawit bisa lebih baik lagi.

"Mari kita jadikan peristiwa LE tsb sebagai intropeksi diri Sawit Indonesia dan menjadikan nya pelajaran hebat untuk naik kelasnya tatakelola sawit Indonesia dari aspek ekonomi, sosial, dan ekologi, terkhusus naik kelasnya Petani sawit menatap masa depannya," jelasnya.

"Larangan ekspor tersebut juga sudah menyadarkan Indonesia, betapa pentingnya Sawit untuk Indonesia, baik dari segi ekonomi, sosial dan keberlanjutan, bahkan dunia yang dulunya selalu dinomortigakan sawit, namun disaat yg bersamaan 'menjerit' ketika kran ekspor ditutup oleh presiden," paparnya.

Baca Juga: Larangan Ekspor Dicabut, Apkasindo: Terima Kasih, Hormat Kami Petani Sawit
Petani Sawit Menjerit, Minta Presiden Jokowi Cabut Larangan Ekspor

Diketahui, kenaikan produksi minyak sawit RI cukup tinggi, dengan produksi, konsumsi dalam negeri. Bahkan stok akhir Maret minyak sawit naik dari 5.051 ribu ton menjadi 5.683 ribu ton.

"Suatu Kehormatan bagi Saya dan seluruh Petani Sawit Indonesia, bisa berjuang dan berguna untuk Indonesia. Selamat menjalani 'hidup normal Industri (hulu-hilir) sawit Indonesia' mari berpacu mengejar ketertinggalan 28 hari lalu untuk lebih baik dan lebih berguna," harapnya.

Video Terkait