Ekspor Dibuka, Harga Migor Masih Tinggi dan Sawit Tak Kunjung Membaik

Harga tandan kelapa sawit. (Antara/HO-Disbun Riau)

Penulis: Yoyok, Editor: Reza P - Selasa, 24 Mei 2022 | 14:40 WIB

Sariagri - Pemerintah telah resmi membuka kembali keran ekspor melalui Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 30 Tahun 2022 tentang Ketentuan Ekspor Crude Palm Oil (CPO), Refined, Bleached and Deodorized (RBD) Palm Oil, Refined, Bleached, and Deodorized (RBD) Palm Olein and Used Cooking Oil (UCO). Pengaturan kembali ekspor CPO ini tetap berpegang pada prinsip bahwa kebutuhan CPO di dalam negeri dan keterjangkauannya merupakan hal yang utama. 

Ditambahkan, agar para produsen dan eksportir CPO memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan pemerintah, di dalam Permendag 30/2022 itu ditegaskan bahwa eksportir harus memiliki dokumen Persetujuan Ekspor (PE) sebagai syarat mengekspor CPO dan produk turunannya sesuai dengan yang diatur dalam peraturan tersebut. Masa berlaku PE adalah enam bulan.

Adapun tiga persyaratan yang harus dipenuhi untuk memperoleh PE adalah, pertama, eksportir harus memiliki bukti pelaksanaan distribusi kebutuhan dalam negeri (domestic market obligation/DMO) dengan harga penjualan di dalam negeri (domestic price obligation/DPO) kepada produsen minyak goreng curah.

Kedua, bukti pelaksanaan distribusi DMO minyak goreng curah dengan DPO kepada pelaku usaha jasa logistik eceran dan membeli CPO dengan tidak menggunakan DPO.

Ketiga, bukti pelaksanaan distribusi DMO produsen lain yang didahului dengan kerja sama antara eksportir dan produsen pelaksana distribusi DMO, disampaikan melalui Indonesia National Single Window (INSW) berupa elemen data elektronik nomor induk berusaha dan nama perusahaan.

Adapun sanksi bagi eksportir yang tidak memenuhi ketentuan antara lain mendapat sanksi administratif berupa peringatan secara elektronik di Sistem Indonesia National Single Window (SINSW), pembekuan PE, hingga pencabutan PE.

Menyusul itu, harga minyak goreng curah di pasaran masih belum mendekati harga eceran tertinggi (HET) Rp14.000 per liter. Dalam catatan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional, rata-rata harga minyak goreng curah di seluruh provinsi per tanggal 24 Mei 2022 sebesar Rp18.600 per kilogram (kg). Sehari sebelumnya, harga minyak goreng curah Rp18.700 per kg, sebelumnya per tanggal 22 Mei 2022 Rp18.900 per kg, kemudian per tanggal 21 Mei 2022 Rp18.950 per kg. 

Itu artinya, sebelum keran ekspor dibuka hingga sekarang, harga minyak goreng curah hanya turun Rp100 per kg. Ini pun bukan karena faktor sentimen kebijakan tapi memang murni menurunnya permintaan.

Di sisi lain, harga tandan buah segar atau TBS sawit di sejumlah daerah masih rendah. Di Aceh Utara, misalnya, harga TBS di tingkat pengepul masih pada kisaran Rp1.700 per kilogram. Sementara, di tingkat pabrik masih bertahan pada kisaran antara Rp2.050 hingga Rp2.065 per kilogram. 

"Kondisi saat ini belum berdampak pada kebijakan pemerintah mencabut larangan ekspor CPO. Kami berharap setelah kebijakan ini efektif berlaku, harga kembali membaik seperti sebelumnya," kata Kastabuna, Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Kabupaten Aceh Utara.

Baca Juga: Ekspor Dibuka, Harga Migor Masih Tinggi dan Sawit Tak Kunjung Membaik
Pencabutan Larangan Ekspor CPO Langkah Strategis Pulihkan Ekonomi

Orang kemudian berharap kebijakan terakhir terkait sawit akan memberikan dampak langsung bagi konsumen maupun petani. Paling tidak, harga minyak goreng harus segera turun lalu terjangkau. Di sisi lain, petani sawit juga mendapatkan berkah dari kembali bergeliatnya ekspor CPO.

Tampaknya ini adalah pertaruhan terakhir pemerintah dalam menjaga harga minyak goreng dan melindungi petani sawit. Jika berlarut, harga minyak goreng masih mahal, petani sawit rugi, pemerintah mesti mengakui bahwa penguasa sawit lebih hebat dari pasar.

Video Terkait