Pakar IPB University: Sawit Tidak Selalu Buruk, Perannya Penting

Pakar IPB, Dr Puspo Edi Giriwono. (Sariagri/Akbarda Winardi)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Selasa, 14 Juni 2022 | 18:15 WIB

Sariagri - Anggapan bahwa minyak sawit mengandung kolesterol tinggi, lemak jenuh tinggi, dan kandungan tidak sehat lainnya seringkali menimbulkan pandangan negatif. Padahal bahan pangan ini sudah dimanfaatkan dalam berbagai bentuk.

Di dalam minyak sawit juga mengandung banyak nutrisi yang baik bagi kesehatan, termasuk untuk membantu menurunkan angka stunting. Demikian ungkap Dr Puspo Edi Giriwono, Kepala SEAFAST Center IPB University dalam Webinar Jendela Sawit Nusantara “Manfaat Sawit untuk Kesehatan” yang digelar oleh El John Media, (8/6/2022).

“Produk pangan dari minyak sawit sangat beragam. Mulai dari margarin, hingga emulsifier. Emulsifier dapat mudah ditemukan pada komposisi berbagai produk pangan. mengatakan berbagai hasil riset juga telah menemukan emulsifier dengan kualitas yang lebih baik,”ujarnya.  

Namun menurutnya produsen pangan dalam negeri masih mengimpor emulsifier ini. Sebagian besar minyak sawit, lanjutnya, tidak diolah lebih lanjut sebagai produk bernilai tambah.

“Padahal, emulsifier ini mampu diproduksi di dalam negeri dan menjadi bahan kebutuhan industri produksi pangan dalam negeri. Sehingga kalau ini jalan, maka akan sangat mengurangi ketergantungan kita terhadap bahan emusfiler ini karena pada saat ini semuanya masih tergantung pada impor,”ungkapnya

Ia menjelaskan bahwa manfaat minyak sawit sangat fleksibel. Masyarakat harus bisa memahami bersama bahwa peran sawit sangat luar biasa, bahkan dari segi kesehatan. Minyak kelapa sawit bahkan berpengaruh pada penurunan angka stunting di Indonesia.

Minyak sawit sangat berperan untuk menjamin gizi dan nutrisi bayi dan balita. Namun manfaatnya seringkali tidak kenal, padahal kandungan asam lemak istimewanya menyerupai dengan ASI.

“Minyak sawit menjadi bahan pangan utama bagi semua produsen susu formula sebagai tambahan nutrisi. Produsen susu formula sudah seharusnya menyertakan minyak kelapa sawit  supaya mendapatkan asam lemak yang paling menyerupai air susu ibu (ASI). Tanpa sawit, tidak akan didapatkan formula susu yang dapat mendukung  kebutuhan nutrisi bayi dan balita secara terjangkau,” tambahnya.

Ia ingin meyakinkan bahwa minyak sawit untuk menggoreng tidaklah buruk. Namun, cara dan suhu yang dipakai harus diperhatikan. Misalnya dalam penggorengan tepung , penggunaan suhu tinggi dapat meninggalkan residu yang kurang baik. Residu ini mulai menurunkan mutu dan kebaikan dalam sawit.

“Bila suhunya dapat dipertahankan cukup rendah dan waktu penggorengannnya dihitung mestinya tidak akan mengkhawatirkan. Penggunaan maksimal minyak goreng disarankan hanya 2-3 kali, “ ujarnya.

Baca Juga: Pakar IPB University: Sawit Tidak Selalu Buruk, Perannya Penting
Perusahaan Kelapa Sawit Wajib Audit, Luhut: Kok Berkantor Pusat di LN?

Ia menghimbau  agar masyarakat bijak dan hemat dalam menggunakan minyak goreng sawit. Dari segi keamanan pangan, menurutnya, kontaminan yang terdeteksi pada produk sawit menjadi kekhawatiran tersendiri. “Hal ini menjadi tugas bersama untuk mengawal produk sawit yang bebas kontaminan. Bahkan langkah rekomendasi untuk mengatasi kontaminan tersebut mulai diadopsi, “ jelasnya.

Dikatakannya, langkah tersebut diterapkan pada produksi hulu hingga hilir. Mulai dari cara praktik pemupukan yang baik, transporasi, hingga pengolahannya. Sehingga dapat menghindari masuknya kontaminan dan menjamin keamanan produk bagi konsumen serta manfaat kesehatannya dapat dirasakan.

 

Video Terkait