Pedagang Kelapa di Lebak Kewalahan Layani Permintaan Konsumen

Pedagang pengumpul kelapa di Jalan Lingkar Selatan Rangkasbitung Kabupaten Lebak, Banten. (Antara/Mansur)

Editor: Arif Sodhiq - Minggu, 19 Juni 2022 | 22:30 WIB

Sejak sebulan terakhir, sejumlah pedagang kelapa di Rangkasbitung Kabupaten Lebak, Banten merasa kewalahan melayani permintaan konsumen. Tingginya permintaan buah kelapa itu dipastikan dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi petani.
Baca Juga: Pedagang Kelapa di Lebak Kewalahan Layani Permintaan Konsumen
420 Ton Kelapa Bulat Senilai Rp2 Miliar Pasok Pasar Thailand

Sariagri - "Kita saat ini melayani permintaan pelanggan hingga 4.000  kelapa per hari, padahal sebelumnya 1.000 kelapa per hari, " ujar Samsudin (50) pedagang pengumpul kelapa di Jalan Lingkar Selatan Rangkasbitung Kabupaten Lebak, Sabtu.

Saat ini, produksi kelapa masih menjadi andalan pendapatan ekonomi bulanan petani Kabupaten Lebak. Mereka petani dari berbagai kecamatan memasok ke pedagang pengumpul hingga di atas 20 ribu buah kelapa per hari.
 
"Kami hari ini terima sebanyak 4.000 buah butir kelapa dan sudah dipesan oleh pelanggan dari Tangerang dan Jakarta," katanya menjelaskan.

Dia menjual kelapa dengan harga Rp3.000/buah dan jika diakumulasikan 4.000/hari bisa menghasilkan Rp12 juta/hari.

Pedagang pengumpul meraup keuntungan dari hasil penjualan rata-rata Rp500/ buah kelapa, sebab mereka menampung dari petani Rp2.500/buah kelapa.

Selama ini, kata dia, meningkatnya permintaan kelapa kemungkinan dipasok ke perusahaan aneka makanan juga ke pasar. Komoditas kelapa Lebak sangat cocok untuk bahan makanan campuran, seperti aneka kuliner dan bisa dijadikan bahan campuran makanan biskuit maupun roti di Tangerang.
 
Kelebihan kelapa Kabupaten Lebak, selain memiliki kadar minyak cukup tinggi, juga tidak mengeluarkan air banyak, juga daging buahnya tebal.
 
"Kami sejak 20 tahun sebagai pengumpul kelapa cukup terbantu ekonomi keluarga hingga menyerap tiga tenaga kerja, " katanya menjelaskan.
 
Begitu juga Memed (55) seorang pedagang pengumpul mengatakan setelah pandemi COVID-19 melandai, memasok kelapa ke luar daerah mencapai dua truk diesel, padahal sebelumnya hanya satu truk diesel.
 
Dia sudah puluhan tahun memasok kelapa ke Tangerang dan Jakarta, sehingga memberikan pendapatan bagi pekerja juga petani.
 
Saat ini, kehidupan ekonomi petani kelapa relatif bagus, karena komoditas ini setiap hari berproduksi dan menghasilkan uang. Selama ini, komoditas kelapa belum pernah mengalami kehabisan.
 
"Kami setiap hari menampung ribuan kelapa dari petani yang ada di wilayah Lebak bagian tengah," katanya.
 
Sumantri (60) petani warga Kecamatan Cimarga Kabupaten Lebak mengaku memiliki perkebunan kelapa seluas 1 hektare. Hampir setiap hari dia menjual ke penampung 3.000 buah butir. Perkebunan buah kelapa tentu bisa menghasilkan pendapatan ekonomi Rp6 juta/ bulan.
 
"Kami bisa menyekolahkan anak-anak hingga perguruan tinggi dari hasil penjualan budidaya kelapa itu," katanya.
 
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak Rahmat Yuniar mengaku saat ini jumlah populasi perkebunan kelapa milik masyarakat sekitar 23.136 hektare tersebar di 28 kecamatan. Populasinya perkebunan kelapa, tumbuh di 28 kecamatan yang ada di Kabupaten Lebak.
 
Mereka mengembangkan budi daya perkebunan tersebut secara turun temurun, karena bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi masyarakat.
 
Pemerintah daerah terus mendorong masyarakat agar mengembangkan perkebunan kelapa, selain tanaman palawija maupun padi sawah. Tanaman budi daya kelapa dapat menyejahterakan masyarakat juga bisa menekan angka kemiskinan.
 
Produksi kelapa hingga setiap hari ribuan ton produksi kelapa dipasok ke luar daerah, seperti Jakarta, Tangerang dan Bogor.
 
"Kami mendorong petani agar memperluas pengembangan usaha budidaya kelapa sebagai andalan petani untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga," pungkasnya.

Video Terkait