Dorong Ekspor, Lampung Timur Jadi Desa Devisa Lada Hitam

Ilustrasi lada hitam. (Pixabay)

Editor: M Kautsar - Minggu, 26 Juni 2022 | 14:00 WIB

Sariagri - Kemenperin resmi meluncurkan Desa Devisa Lada Hitam di Kabupaten Lampung Timur. Lada hitam Lampung merupakan komoditas potensial ekspor karena rasa dan aromanya yang lebih pedas dan tidak memiliki daerah lain, serta memiliki reputasi yang baik di pasar domestik dan internasional.

"Kami melihat pendampingan di daerah atau sentra IKM potensi ekspor berperan penting dalam meningkatkan kemampuan jutaan pelaku IKM yang menjadi tulang punggung perekonomian negara," ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, dikutip Minggu (26/6).

Agus berharap pendampingan di desa devisa dapat mendongkrak ekspor dan pendapatan devisa yang berkelanjutan di daerah yang produknya merupakan komoditas unggulan ekspor.

Dia menyebutkan, Program Desa Devisa yang diluncurkan di desa-desa bertujuan agar produksi komoditas ekspor tersebut semakin meningkat, memperluas akses pasar, serta memacu ekspor dan pendapatan devisa yang berkelanjutan.

"Sehingga kesejahteraan keluarga petani, pengrajin dan pelaku usaha di lokasi penyelenggaraan desa devisa itu ikut terdongkrak," tutur Agus.

Adapun jumlah petani yang akan didampingi oleh Kemenperin melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) dan LPEI mencapai lebih dari 500 petani yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani Cahaya Baru yang berada di enam desa, antara lain Sukadana Baru, Catur Swako, Tanjung Harapan, Negeri Katon, Putra Aji Dua, dan Surya Mataram.

"Lada hitam Lampung telah mengantongi sertifikasi Indikasi Geografis (IG) yang dikeluarkan oleh Kementerian Hukum dan HAM sejak tahun 2016 karena reputasi baik tersebut,” kata Direktur Jenderal IKMA Kemenperin, Reni Yanita.

Menurut Reni, prospek komoditas lada Indonesia cukup besar dengan semakin berkembangnya industri makanan dan konsumsi masyarakat yang menggunakan bahan baku lada sebagai penyedap makanan.

Berdasarkan neraca perkebunan tahun 2021 yang dirilis oleh Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian, ekspor lada berhasil mencapai 39.961 ton.

"Lada hitam Lampung dikenal di pasar dunia sebagai Lampung black pepper. Permintaan lada hitam di pasar internasional juga meningkat. Saat ini, lembaga pendamping telah melakukan ekspor melalui pihak ketiga dengan nilai terbesar ke India, Kenya, Australia, dan Jerman," ungkap Reni.

Baca Juga: Dorong Ekspor, Lampung Timur Jadi Desa Devisa Lada Hitam
Dongkrak Daya Saing Industri, Kemenperin Dorong Penyerapan Jagung Lokal



Lebih lanjut, Direktur Eksekutif LPEI Riyani Tirtoso mengungkapkan, kerja sama Ditjen IKMA dan LPEI dalam program pendampingan Desa Devisa Lada Hitam Lampung Timur turut melibatkan Dinas Koperasi dan UMKM Lampung Timur.

“Akan ada pelatihan penguatan manajemen usaha, pemberian sarana produksi untuk peningkatan kapasitas produksi, pendampingan akses pasar, pendampingan sistem keamanan pangan, dan pelatihan aplikasi keuangan dalam penyusunan laporan keuangan,” kata Riyani.

Video Terkait