Tak Bisa Dipanen, Petani Cabut Paksa Tanaman Tembakau Mereka

Ana, petani asal Lombok Tengah cabut tanaman tembakau yang rusak. (Sariagri/Yongki)

Editor: M Kautsar - Rabu, 6 Juli 2022 | 18:10 WIB

Sariagri - Pasrah karena tanaman tembakau tidak bisa dipanen, sejumlah petani di Desa Landah, Kecamatan Praya Timur, Kabupaten Lombok Tengah, NTB mencabut paksa tanaman tembakau mereka yang belum masuk masa panen, Rabu (6/7/2022). Aksi para petani ini dilakukan karena sejak sepekan terakhir ladang mereka seluas puluhan hektare terendam air hujan, hal itu membuat tanaman tembakau mereka yang baru berumur dua bulan rusak parah.

Rumdi, seorang petani di wilayah itu tak segan mencabut paksa tanaman tembakaunya. Keputusan ini karena dia menganggap tidak akan bisa tumbuh sempurna. Walau harus merugi, ia terpaksa melakukan hal tersebut.

"Iya mau bagaimana lagi sudah begini kondisinya, harus kita cabut paksa," ucap Rumdi kepada Sariagri.

Kendati tembakau yang dia sudah rawat selama dua bulan harus dicabut paksa, Rumdi mengaku akan menanam kembali bibit tembakau baru untuk menutupi kerugian.

Adapun ancamanan gagal tanam belum sepenuhnya hilang, kata Rumdi, dia tetap berharap dengan menanam tembakau kembali. Hasilnya bisa menutupi kerugiaan akibat kegagalan saat penanaman yang pertama.

“Harus kita tanam ulang lagi, kalau tidak begitu kita harus menanggung kerugian total ini," imbuhnya.

Dia mengatakan, hampir semua petani yang mengalami kegagalan lantaran tanaman tembakaunya hancur karena hujan memilih untuk kembali menanam tembakau dengan modal seadanya. Bahkan, sebagian petani harus harus meminjam uang di Bank sampai menggadaikan barang berharga mereka.

Selain untuk biaya persiapan, modal juga digunakan untuk membeli bibit tembakau, karena pada tanam yang kedua kalinya, bibit harus didatangkan dari luar. Mengingat, bibit tembakau yang sudah dipersiapkan sebelumnya oleh petani sudah habis ditanam pada saat tanam yang pertama kemarin.

"Kita harus menambah modal untuk bisa membeli bibit, belum lagi untuk pupuk dan obat-obatan yang harganya juga tidak murah," katanya.

Hal senada juga dikatakan oleh Ana, petani tembakau di wilayah itu. Ana menyebut untuk tanam yang kedua kali ini, modal yang dibutuhkan lebih besar lagi.

Baca Juga: Tak Bisa Dipanen, Petani Cabut Paksa Tanaman Tembakau Mereka
Tarif Cukai Naik, Alokasi Dana Hasil Tembakau Dialokasikan untuk Bantu Petani

“Dua kali lipat jadinya yang harus kita keluarkan sekarang ini, ketimbang rugi," terang Ana.

Sebelumnya diakui Ana, untuk menutupi kerugian para petani yang tanaman tembakaunya rusak sempat didata dan katanya akan memperoleh bantuan benih tembakau dari pemerintah setempat. Namun, pada kenyataan, hingga petani mulai menanam yang kedua bantuan benih tembakau yang dijanjikan tak kunjung datang, sehingga mau tidak mau petani harus membeli bibit sendiri.

Menanam tembakau, diakui Ana memang menjadi alternatif utama para petani untuk mencukupi kebutuhan hidup. Sebab, jika akan menanam tanaman yang lain dianggap lebih berisiko dengan kondisi cuaca yang tidak menentu.

“Petani lebih banyak memilih menanam tembakau kalau sekarang ini," pungkasnya.

Video Terkait