Inovasi Plastik Ramah Lingkungan dari Limbah Kelapa Sawit

Ilustrasi kelapa sawit (commons.wikimedia)

Penulis: Dera, Editor: Redaksi Sariagri - Selasa, 17 November 2020 | 12:45 WIB

SariAgri - Polusi plastik masih menjadi permasalahan serius karena bisa merusak lingkungan. Begitu juga dengan industri minyak sawit, yang terkait dengan deforestasi yang meluas dan perusakan habitat. 

Plastik sekali pakai yang tidak dapat terurai secara hayati, seperti kantong plastik dan pembungkus makanan merupakan 40% dari seluruh produk plastik yang diproduksi di dunia setiap tahunnya. Selain sampah plastik, 19,8 juta ton limbah tandan buah sawit juga dibuang setiap tahun di Malaysia saja.

Terkait dengan dua isu lingkungan tersebut, para ahli akhirnya menciptakan plastik film ramah lingkungan yang terbuat dari limbah produksi minyak sawit. Di tangan para ahli, Hemiselulosa dijadikan biopolimer yang menjanjikan untuk aplikasi pembuatan film karena fleksibel dan memiliki permeabilitas gas yang rendah serta ketahanan air yang tinggi.

Seperti diketahui, hemiselulosa berlimpah di limbah pertanian dan biomassa, bahkan dikenal sebagai komponen utama tandan buah yang dibuang oleh industri perkebunan kelapa sawit.

"Hemiselulosa adalah biopolimer alami yang diperoleh dari bahan terbarukan seperti polisakarida dan protein. Ini menunjukkan potensi yang sangat besar untuk menggantikan polimer berbasis minyak bumi yang tidak dapat terurai karena biaya rendah dan kemampuan terurai secara hayati," tulis para peneliti yang berbasis di Universiti Sains Malaysia, seperti dikutip phys.org

Berita Perkebunan - Baca Juga: Biar Lebih Awet, Begini Cara Pengolahan Susu Segar Agar Tak Cepat Basi
10 Manfaat Air Tebu Bagi Tubuh, Bisa Cegah Kanker Hingga Hilangkan Jerawat

Setelah mengekstraksi hemiselulosa dari tandan, para peneliti menegaskan bahwa tandan buah kelapa sawit dapat diidentifikasi sebagai bahan mentah potensial dengan hasil yang sangat besar dalam produksi kemasan hijau (ramah lingkungan).

Namun kelemahan Hemilelulosa adalah sifatnya yang rapuh. Karena itu, para peneliti memutuskan untuk mencampurnya dengan biopolimer karboksimetil selulosa (CMC) yang tidak beracun dan tersedia secara komersial. CMC diketahui memiliki efek positif pada sifat mekanik, transparansi, fleksibilitas, dan penyerapan air dari biopolimer lainnya.

Tim tersebut mencampurkan jumlah hemiselulosa yang berbeda dari rusuk buah kelapa sawit dengan CMC. Campuran ini kemudian dibuat menjadi film biopolimer dengan berbagai ketebalan (semuanya di bawah sepersepuluh milimeter).

Penyelidikan ekstensif terhadap karakteristik fisik dan kimia film mengungkapkan bahwa film yang mengandung 60% hemiselulosa memiliki sifat optimal untuk membuat bahan kemasan yang dapat terurai. Bahan campuran hemiselulosa baru ini dapat menawarkan polimer biodegradable yang murah dan berlimpah.

Baca Juga: Inovasi Plastik Ramah Lingkungan dari Limbah Kelapa Sawit
Kelapa Bido asal Morotai, Potensi Industri Kelapa di Masa Depan

Meskipun memproduksi biopolimer dari limbah industri kelapa sawit tidak mencegah deforestasi, penggunaan produk sampingan industri sawit ini setidaknya bisa menambah nilai tanaman, dan dampak lingkungan dapat diminimalkan secara signifikan.

Para peneliti berharap, memasukkan aditif untuk membuat film berbasis hemiselulosa aktif secara elektronik atau fotokatalitik akan meningkatkan kemungkinan penerapannya di masa depan. (Sariagri/Marthin)

Berita Perkebunan - Kenapa Petani Indonesia Miskin